Tampilkan postingan dengan label harianku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harianku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Februari 2015

Perjalanan Menuju Walimahan, Beda Kota Beda Budayanya


Jumat 20 Februari 15 , salah seorang sahabat Kalam (HIMMPAS UNY) sebut saja namanya Mawar, eh memang namanya Mawar Ramadhan ding  :) alhamdulillah telah menemukan lelaki terbaik yang dipilih Allah untuknya. Maka sebentuk undangan pun dikirim untuk para sahabat Kalam. Akhirnya, setelah satu tahun setengah di Jogja bisa juga numpang perbaikan gizi di kondangan. Hehe, :p Bener-bener pikiran anak kos y. Setelah woro-woro di grup, ternyata yang bisa pergi hanya kita berdua saja. Aku dan Resti Yektyastuti yang kebetulan dulunya juga  satu posko kkn sama si mawar. Jadinya , Resti dapat dua undangan sekaligus.
Karena pagi Jumat kita sudah punya agenda di mesjid FIP, kami pun memutuskan untuk berangkat ba'da zuhur, sambil menunggu pinjaman motor. Motornya si Resti lagi dipinjam sama temannya, maka Resti pun meminjam motor pada temannya yang lain. Nah temannya yang lain nggak tahu deh minjam sama siapa. Selesai agenda, ternyata perut kita sama-sama keroncongan. Mau nunggu makan di kondangan nggak tahan sama lambung yang sudah makin menggigit. Akhirnya kami ngacir sebentar ke foodcourt. Makan, minum, ngobrol ngalor ngidul. Obrolannya nggak jauh-jauh dari masa depan. Tesis dan setelah tesis. Tak terasa sudah jam setengah dua lewat. Menurut jadwal yang tertera di undangan, resepsinya mulai dari jam 13:00 s/d 15:00 wib. Jadi kita cuma punya waktu satu jam setengah lagi, dan itu acaranya di Kabupaten Bantul sana, ditambah lagi kami belum bersiap-siap. Kami pun  mempercepat langkah menuju parkiran."Jadi kita ke kos resti dulu atau ke kos kk, terus nanti resti jemput lagi?"
"Kelamaan nggak sih res, ke kos kk aja dulu y, sekalian siap-siap baru ke kos resti." Aku menawarkan solusi. 
"Tapi baju sama jilbab yang mau dipakai belum disetrika sih Res." Sambungku sambil nyengir kuda." 
"Sama, baju sama  jilbab  Resti juga belum disetrika." Resti balas nyengir. Hwaaah, ternyata kita sama aja. Resti segera mengarahkan motor temannya ke klebengan. Masuk kos, nyolokin setrika dan menggosok dengan super cepat. Pas akunya sudah siap, liat ke bawah, eh ada yang kelupaan belum ganti sandal. Masuk kos lagi, membongkar tempat penyimpanan, dan sandal ngumpetnya jauh di dasar. Alhasil Resti lumayan kepanasan di atas motor. Beralih ke kos Resti, masuk kos, nyolokin setrika, dan menggosok dengan super cepat. Tapi, mau secepat apapun kita menit  terus berjalan. Jam menunjukkan pukul dua lewat. Pas, sudah siap. Baru ingat kitanya belum beli kado. Nggak mungkin membawa diri aja kan, dan akhirnya kita  memutuskan untuk ngamplop. Resti yang ngakunya punya stok amplop nyempet-nyempetin ngubekin rak bukunya. 
"Aduh, dimana y tu amplop?"
"Udahlah Res, ntar kita beli di jalan aja." Usulku sambil melihat jam. Sudah hampir jam setengah tiga. Resti tanpa banyak bicara mengiyakan tawaranku. Berbekal peta yang ada di undangan, kami segera tancap gas menuju Bantul. Tidak tanggung-tanggung Resti membawa motor layaknya pembalap.  Beberapa kali aku melirik speedometer MasyaAllah 70 lebih, emang pembalap ni anak. Ini mau pergi walimahan atau balapan y. Sampai-sampai  kita hampir aja nyerempet seorang mbak-mbak  yang bermotor.  "Res, pelan-pelan aja lah." Tanganku udah pegel buat pegangan. 
"Sebentar lagi jam tiga tu  kak." Resti menunjukkan jam di tangannya. 
"Masa iya sih, jam tiga teng, kalau telat nggak ditungguin po?" Aku masih berargumen. Soalnya kan kalau di Jambi sana paling mentoknya sampai jam lima. Resti menjawab argumenku dengan tancap gas. Untungnya rumah mawar gampang ditemukan. Persis jam tiga teng akhirnya  kita sampai juga  di lokasi. Normalnya dari Sleman ke Bantul biasa ditempuh sekitar 45 menit sampai satu jam, dan kita cuma sekitar 30 menit, belum lagi tadi  dipotong waktu buat isi bensin.  Masuk, mengisi buku tamu dan mengeluarkan amplop yang alhamdulillah sempat  kita beli sebelum masuk lorong rumahnya Mawar.
"Salam dulu kita kak." Resti mendekatiku yang sudah bersiap menuju meja prasmanan. Aku sedikit bingung, salaman? "Bukannya makan dulu y?" Resti terlihat ragu, dan akhirnya menuju meja prasmanan. Berhubung tadi sudah makan, kami pun hanya mengambil sup dan sedikit lauk. Kami duduk bersebelahan  dengan teman Resti yang dulunya satu posko juga. Mereka saling bertukar kabar, dan aku sempat dengar Resti bertanya sudah salaman sama pengantinnya atau belum. Dan ternyata sudah. Aku jadi heran, kenapa si Resti dari tadi ngomongin salam. "Biasanya kalau di sini salaman dulu kak, baru makan." Resti menjawab kebingunganku. Oo begitukah? Jika lazimnya di daerah kami  makan dulu baru menyalami sekaligus foto-foto dengan dua mempelai. Tapi disini salam dulu baru makan-makan. Mau yang mana juga oke-oke aja sih ya, cuma takutnya tadi  ada yang mikir, ini mbak-mbak datang-datang langsung maem, laper banget apa ya. Hehe, semoga nggak lah ya. Lagi enak-enaknya makan, Resti sudah ngajakin salam. "Salamanlah lagi kita kak, nampak-nampaknya sudah mau beres-beres." Benar saja, begitu kita turun dari pelaminan, mereka sudah mulai membereskan peralatan makan. Ternyata beneran ontime nih resepsinya, jam tiga lewat 10 menit kami pun segera beranjak pulang. Luar biasa, pegel pinggangku belum juga hilang, eh sudah naik motor lagi. Sekali lagi teruntuk Mawar dan suami  "Barakallahulakuma wabaraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma filkhoir" semoga menjadi keluarga samara dunia akhirat  :) Kadonya nyusul y...

Senin, 01 Desember 2014

Aku Tertipu

04 November, Selasa pagi menjelang siang, pukul 10 kurang beberapa menit lagi. Ya Tuhan, masa aku telat lagi. Setelah hari minggu kemaren juga telat karena ada rapat KMP UNY  (Keluarga Mahasiswa Pascasarjana, bukan Koalisi Merah Putih y) di pasar sunmore (sunday morning di lembah UGM). Ada ya rapat di pasar? :) nah kali ini aku nggak punya alasan logis  yang bisa disampaikan ke mbk Husna guru tahsinku. Aku mengeluarkan sepeda dengan tergesa, semoga masih bisa terkejar deh. Salahku juga yang sarapannya kelamaan, pake acara muter-muter dulu sama nisa, dan akhirnya soto banjar dan nasi kuning jadi pengisi energi kita pagi ini. 
Sambil mengingat-ingat surat yang akan disetor, aku mengayuh sepeda secepat yang kubisa. Klebengan ke pandean biasanya ditempuh 10 menit, semoga kali ini bisa lebih cepat. Tapi, harapanku sungguh meleset. Setelah belokan ke arah deresan  nurul ashri, tiba-tiba dari arah utara  seorang ibu melambaikan tangannya. Aku yang lagi ngebut sontak mengerem mendadak, mungkin mau tanya arah kali, batinku. 
"Ada yang bisa dibantu bu?" Tanyaku, tanpa turun dari sepeda.
"Kalau mau naik bus ke terminal giwangan atau jombor kemana y mbk?" Tanya si ibu dengan campuran bahasa jawa. Nah, benar kan cuma mau tanya arah aja, selesai dijawab aku bisa tancap lagi, rasa-rasanya sudah jam 10 teng ini.
"Oh, ibu jalan aja terus ke selatan, ketemu perempatan FT UNY, belok kiri sampai ketemu jalan gejayan, ambil arah kiri lagi nanti ada halte trans jogja bu" Jelasku cepat, aku sudah siap-siap mau cabut, tapi si ibu memotong lagi.
"Ehm, begini mbk, saya itu mau pulang ke muntilan. Tadi itu naik bus, tapi pas di jalan raya sana mobilnya mogok." Tangannya menunjuk ke arah utara, sambil menghela napas si Ibu melanjutkan penjelasannya.
"Terus ya saya jalan kaki, lha pas dirasa-rasane dompet saya hilang, nggak tahu jatuh dimana"
Ya ampuun, kasihan sekali ni ibu, rasa simpatiku langsung muncul, berarti intinya ibu ini butuh ongkos buat perjalanan pulangnya. Aku membuka dompet sambil berpikir kira-kira  berapa ongkos yang dibutuhkan si ibu. Naik trans jogja sampai terminal 3000, dari terminal ke rumah ibunya mungkin butuh ongkos lagi, dan untuk yang lain-lainnya. Yo weslah, 20.000 sepertinya cukup. 
"Oh, jadi dompetnya ibu hilang y." Aku mengeluarkan lembaran dua puluh ribuan dan menyerahkannya kepada si ibu sambil memperhatikannya dengan seksama lagi. Ibu ini mengenakan celana jeans, blus kotak-kotak dengan potongan rambut pendek. Tangan kirinya menyandang tas dan tangan sebelah kanannya memegang payung. Beberapa hari ini panasnya memang menyengat, termasuk sekarang. matahari sudah bersinar terik sejak pagi tadi. Beruntunglah si ibu membawa payung. Eh, tunggu dulu. Payung. Biasanya aku bawa payung kalau musim hujan, dan kalau mau pergi jauh juga nggak pernah bawa payung. Bukannya tadi ibunya mau pulang kerumah y, si ibunya darimana tadi aku belum nanya. Kalau ibunya dari rumah, masa iya jam 10 sudah mau pulang ke rumah lagi. Tadi bilang rumahnya di muntilan, itu daerah mana y, terus mau ke terminal jombor atau giwangan. Dari tiga tempat itu aku cuma tahu terminal jombor. Ehm, sepertinya ada yang mencurigakan. Tapi uang sudah aku sodorkan.
Si ibu menerima uang dengan sumringah.
"Mbaknya aslinya mana?"
"Jambi bu". Aku sudah malas menjawab ditambah lagi ini pasti sudah jam 10 lewat.
"Maksud saya, kosnya dimana, atau bisa minta nomor hpnya nanti keluarga saya ngubungin mbknya buat ganti uangnya." 
Menarik sekali ini modusnya, coba sekarang aku tanya lagi deh.
"Nggak usah diganti bu, nggak papa, oya itu cukup kan bu?" 
"Habisnya itu 38.000 ribu e  mbk" 
Woow, tambah 2000 lagi jadi dua kali lipat yang aku kasi dong bu.
"Aduh, maaf ibu uang saya adanya segitu". Dalam hati aku meluruskan ucapanku, maksudnya buat ngasi ibu ya bisanya segitu aja. 
"Udah ya bu, saya pergi dulu. Semoga Ibu cepat sampai di rumah."
"Oh ya, matur nuwun nggih mbk"
"Ya bu, sama-sama."
Aku kembali mengayuh sepeda, tapi kali ini dengan perlahan. Percuma, ini sudah jam 10 lewat pake banyak. Setidaknya aku punya alasan yang bisa diceritakan sama mbk husna, walaupun duapuluh ribuku melayang :(

Dan ternyata, dari keterangannya mbk husna, di deresan itu sudah biasa modus yang seperti itu. Mbk husna sendiri pernah  menjadi korbannya. Bahkan hampir kena dua kali, kenapa hampir, karena yang kedua juga bertemu dengan ibu yang sama. Nah, jadi ketahuan deh.  Dan, biasanya yang diincer adalah kita-kita yang jilbaber ini. Jadi, waspadalah, waspadalah.

Senin, 13 Oktober 2014

Setahun di Jogja (Mengingat Kembali)

Alhamdulillah tahun ini masih diizinkan untuk bertemu dengan tamu agung syahruramadhan. Tak terasa ini tahun kedua aku berpuasa di jogja. Rasanya baru kemaren aku sibuk mengurus pendaftaran s2 yang sudah di batas akhir gelombang ketiga, sibuk mengejar pihak birokrat unja demi selembar surat rekomendasi beasiswa yang ternyata, eh tidak dibutuhkan :( , menyelesaikan amanah pekerjaan secepat yang kubisa dan tak lupa merayu abangku agar bersedia jadi donatur utama transportasi perjalanan ke kota ini. Syukurnya abang mau meloloskan beberapa lembar ratusan dari tabungan pernikahannya, muucih abangku yang baek hati :) . Meskipun hanya cukup untuk membeli tiket pesawat pergi, ini cukup menghemat waktu perjalananku, sebab sekolah hanya memberikan jatah izin kerja 3 hari saja. Masalah pulangnya percayakan pada bus Ramayana. Hitung-hitung pengalaman baru naik bis terjauh sendirian, terkadang terpaksa dan nggak punya itu beda tipis ya.

Sebenarnya, banyak yang harus dikorbankan demi s2 ini. Pertama, adIkku yang duduk di kelas 3 SMK harus bersedia menunda kuliahnya tahun depan. Walaupun judulnya beasiswa, tetap saja mahasiswa harus bayar di awal terlebih dahulu. Ya, pihak UNY yang menjadi tujuanku tidak bersedia menangguhkan biaya mahasiswa pendaftar BPPDN. Nah, nggak kebayangkan kalau aku dan adik masuk kuliah ditahun yang sama, sementara kami bukanlah dari keluarga yang punya banyak harta. Syukurnya lagi, adikku mau mengalah… muucih adikku yang cantik…Kedua, aku harus bersiap kehilangan pekerjaan yang sudah kujalani setahun ini. Kalaupun seandainya aku tidak lulus dan ingin kembali mengajar, maka harus memulai lagi dari awal. Yah begitulah ketetapan dari Sekolah IT, dan aku menghargai itu. Memikirkan kemungkinan terburuk tidak lulus itu, membuat dudukku tak nyaman. Dan yang ketiga kasihan abangku yang sudah rela menyumbangkan tabungannya hingga aku bisa duduk dalam burung besi ini.
“Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara internasional Jogjakarta Adi Sucipto, tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Jogjakarta. Kami persilahkan kepada anda untuk kembali ke tempat duduk anda masing-masing, menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja-meja kecil yang masih terbuka di hadapan anda, dan…”
Suara mbak pramugari yang merdu memutus lamunanku. Aku menatap ke luar jendela, di bawah sana jogja sudah menjelma dalam titik-titik kecil. Pesawat semakin merendah dan sekilas aku menangkap tulisan UNY dari atap sebuah bangunan. Nah, sepertinya itu adalah calon kampus keduaku kelak. Aku kembali menggumamkan doa dalam hati. Allah, jika memang ada rizkiku untuk menuntut ilmu lagi, izinkanlah aku mencari ilmu itu di kota ini, maka luluskanlah aku S2 di UNY beserta beasiswanya. Sungguh Engkau maha pengasih, maha mengetahui apa yang terbaik untuk hambamu ini. Aku mengaminkan doa sembari menutup jendela. Jujur, doa ini adalah doa favoritku beberapa bulan belakangan ini, bahkan mengalahkan posisi doa jodoh dari urutan kedua menjadi ketiga :) . Posisi pertama tetap doa mohon ampun dan orang tua tentunya.

Turun dari lion air, aku bergegas menghidupkan hp, mengirim pesan pada Nisa yang akan menjemputku. 
” Dek, kk sdh smpai ni, kk pkai gmis kotak2 htam jlbab mrah, kk tgu y” tak lupa emoticon senyum :) ku selipkan juga.
Sms terkirim, Kini tinggal menunggu jawaban dan jemputan. Berdasarkan rekomendasi si Wirna teman seamanah di FPRJ (Forum Pemuda Remaja Jambi) aku ditawarkan untuk menginap di kosannya dulu waktu dia kuliah di UGM. Nah, si Nisa ini adalah adIk kosnya yang didaulat untuk menjemputku. Lima belas menit berlalu, hpku tidak menunjukkan tanda adanya pesan masuk. Aku mulai jenuh, ditambah lagi mas-mas taksi yang tak habis-habisnya menawari jasanya. Baiklah aku telpon saja, tuut tuut tanda panggilan masuk terdengar, dan diakhiri bunyi tuut panjang. Ah, mungkin Nisa lagi di jalan, aku berhusnuzhon untuk menenangkan hati. Dan benar saja, hpku bergetar, satu pesan diterima.

"kk dimna, ak sdh d bndra pntu msuk, ak pkai bju ijo jlbab itm"
“kk d pntu kdtngan ats yg dkt transjogja” plus emoticon senyum lagi :)
Beberapa menit kemudian, akhirnya Nisa muncul juga. Aku tersenyum lega.
“Afwan k, lama y?”
“Enggak kok dek, nggak papa.” Kali ini dengan senyuman asli :)

Kami segera meluncur, membelah jalan raya yang ramai. Kota pelajar ini tiap tahun selalu kedatangan mahasiswa-mahasiswa baru, tapi tidak setiap tahun mahasiswa-mahasiswa lama bisa meninggalkan jogja. Mungkin ini salah satu penyebab lalu lintas jogja semakin macet.
Lebih kurang 20 menit, Nisa mengarahkan motornya ke sebuah gapura yang diatasnya tertulis Selamat Datang di Kampung Klebengan. Eh, jauh-jauh dari jambi, ternyata tinggalnya di kampung juga, batinku. Sebenarnya Klebengan sudah tak terlalu asing di telingaku, karena si chandra sepupuku yang S1 di UGM dulu kosnya juga disini. Cuma yang baru kutahu itu,ternyata ada embel-embel kampungnya :) . Tapi ini kampung yang berbeda, setahun ini, tak menyesal aku mengiyakan rekomendasinya Wirna.
bersambung…

Ramadhan 1435 H

#Late post 


Kamis, 11 September 2014

Si caca pake jilbab


Seneng itu, ketika dapat kabar dari ayuk kalau si caca (salsabila atsabita haniya) sudah memilih pakai jilbab kalo pergi ke sekolah. Nah, Ini tu foto hari pertamanya masuk SD. Entah apa yang menggerakkan hati caca untuk pakai jilbab. Awalnya aku sudah melakukan jurus pendekatan dengan menawarkan membeli seragam baju dan rok panjang, alhamdulillah tawaran bersambut dengan alasan biar nggak item. Nah, pas giliran nawarin pake jilbab sekalian, langsung dah ditolak mentah-mentah.



"Nah, bajunye panjang, roknye panjang, sekalianlah nak pake jilbab, pasti tambah comel, kepalanye idak panas…"
“Aii, apelah cik te ni. Panas tauk pake jilbab tu.”
Belum juga selesai aku melancarkan serangan, caca sudah motong duluan. Hmm, aku menarik nafas kecewa.
“Ye lah hai, suke-suke caca lah.” 
Aku menyerah.
“Nantek, kalau sudah besak je pakai jilababnye ye”. Ayukku membantu negoisasi dengan menyebutkan jilabab, plesetan caca untuk jilbab waktu dulu. 
“Iye, pas kelas 6 pake jilbab ye, eh kelas 5 lah.” Aku kembali bersemangat.
“Eh, aku nak pegi maen dulu lah.” caca lari keluar, meninggalkan kami yang gagal.

Hari pertama pulang sekolah.
“Kekmane nak sekolahnye?” Tanya kakakku, diikuti dengan aku dan adekku yang siap mendengarkan celotehan caca.
“Ehm, kek itulah.”
“Sudah dapat kawan baru belum, ade yang pakai jilabab dak nak? ” brondongku.
“Ade sikok yang pake jilbab yuk”. Jawab adekku, dia yang bertugas antar jemput caca pagi ini.
“Tu…kan nak, adelah yang pake jilbab”. Tanggapku dengan semangat.
Caca tak menjawab, dia sibuk dengan lengan bajunya yang memang agak kebesaran sambil menggumam lirih.
“Apelah baju budak caca tu, lengannye panjang, digulung pulak tu”. 
“Siape yang bilang caca kekgitu?” Potong kakakku dengan berapi-api.
“Eh, tak adelah muk, kate aku deweklah”. jawab caca sambil senyum. Huah, kami bertiga geleng-geleng kepala.

Sicaca memang agak sensitif dan suka berandai-andai. Terkadang juga suka bersikap dan berbicara layaknya orang dewasa. Dan aku rasa, takdir yang dijalaninya memang membuat ia lebih cepat dewasa dari umur yang sebenarnya. Diumur yang masih balita, ia sudah menentukan pilihan hidupnya. Lebih memilih tinggal bersama nenek dan atuk daripada ikut ibu dan ayah tiri. Bukannya si ayah dan kakak tiri yang kejam, tapi caca merasa lebih aman dan nyaman tinggal bersama kami yang sudah dikenalnya sejak lahir. Jadilah caca sebagai satu-satunya cucu yang besar di rumah kami.


Beberapa hari setelah sekolah, siang itu aku mengajari caca dan nisa, keponakan dari abangku yang juga baru masuk sekolah. Ceritanya aku guru, dan mereka muridnya.

Lagi enak-enaknya nulis,tiba-tiba si caca nyeletuk. 
“Cik te, kalau orang baek tu masuk surge ye?” Ia menolehku, sambil memamerkan gigi-gigi depannya yang ompong.
“Iyelah, kalau baik masuk surge, kalau jahat masuk nerake.” Jawabku kaget, tumben-tumbennya dia yang memulai percakapan tentang surga dan neraka. Biasanya, aku yang memulainya duluan, entah dengan buku cerita,video ataupun sikapnya yang kukaitkan dengan kebaikan dan kejahatan yang akan diperhitungkan oleh Allah. Tentunya dengan logika anak kecil.
“Terus, kalau nak masuk surge tu kekmane cik te?” lanjutnya.
“Ehm, harus sholat, rajin ngaji, baek dengan orang tue, dengan kawan, nutup aurat, pake jilabab.” 
“Aku tak bise ngaji cik te.” Tanggapnya, padahal aku ngarep dia bilang mau pake jilbab ;) .
“Makenye belajar, ok? Nah, mane tugasnye, sini cik te ponten.” Percakapan selesai, dan aku berdoa dalam hati supaya caca kelak jadi anak yang solehah.

Malam minggu kemaren, tepatnya tiga minggu setelah caca sekolah, aku menelpon ke rumah. Biasalah, sekedar berkirim kabar dan menanyakan kabar masing-masing. Terkadang berjauhan itu justru membuat kita menjadi semakin dekat bukan.
"Caca sekarang sudah pakai jilabab cik te." Ayukku langsung memberikan kabar gembira.
“Haa, iye ye?” Aku teriak setengah tak percaya.
“Kok mau?”
Lantas, ayukku menceritakan sedikit tingkah caca sebelum memutuskan untuk berjilbab.
“Muk, ngapelah cik te tu pakai jilbab terus, idak risau ape muk.” Tanyanya di suatu kesempatan.
“Aku nak kayak cik te ah, dak mau pacaran, aku nak kuliah be.” salah satu pernyataanya yang bikin aku senyum sendiri, dikiranya aku nggak pacaran karena karena sibuk kuliah kali y.
“Muk, aku cantik dak kalau pake jilbab, comel dak muk?” tanyanya lagi di kesempatan yang lain.
“Muk, aku mau sekolah pake jilbab lah muk.” Putusnya.

Alhamdulillah, mudah-mudahan istiqamah y nak. Semoga Allah senantiasa menjagamu.
Cat:
@Cik te: asalnya mak cik/kecik, panggilan untuk bibi. Karena dirumah dipanggil santi, jadinya diperpendek lagi jadi te, jadilah cik te. Lagian gak nyambung kali kalo dipanggil cik chan, hehe...terlalu keren itu mah
@Muk: asalnya mak muk/gemuk, panggilan untuk bibi juga. panggilan untuk ayukku yang nomor 4, karena dia yang paling mencerminkan sebutan tersebut :p
@comel: imut .

Senin, 27 Mei 2013

Akhirnya Kumenemukanmu

Ah,,, akhirnya kutemukan juga dirimu, setelah sekian lama mencari di beberapa tempat yang biasanya sering kusinggahi tak pernah aku melihatmu. Tapi hari Minggu kemarin tepatnya 3 februari (pas bangettt hari ultahku, heeeee) aku melihatmu berdiri di sana dengan senyummu, hampir ku tak percaya, setelah ku mendekat, mengerjap-ngerjapkan mata ini, meneliti kembali. Akhirnya aku yakin kaulah yang selama ini kucari. Mas Gagah,,,, akhirnya kau kutemukan juga.
Eittts, jangan mikir yang aneh ya. Aslinya bernama Ketika Mas Gagah Pergi. Pernah dengeeer? atau udah tau? Yuups, itu adalah judul sebuah cerpen Karya Mbk Helvy Tiana Rosa, kakaknya Asma Nadia . Penulis kondang Indonesia yang aku idolakan karya-karyanya.Segera aku mengambilnya, 45.000 tertera disana,plus diskon 10 % berikut keterangan si penjual. Sambil bercanda aku mengompori tiga orang ukhti sahabatku yang ikut liat-liat agar mmbelikannya untuukku, hitung2 sbgai kado ultah  hihihi, mnta kado maksa...Akhirnya ku tengok juga uang didompet. Sedikit ragu, masalahnya uang gaji bulan ini sudah terposkan pada alamatnya masing-masing. Kecuali 4 lembar merah untuk 4 minggu ke depan. Jika diambil 40.000, aku mesti berhemat-hemat ria bulan ini.Tapi, tak apalah berhemat-hemat dikit demi  si Mas Gagah.
"Tak apalah chan mengadoi diri sndiri" usul siukhti mala.
Bismillah, berpindah juga tu buku ke dalam tas ku. Sabar ya, segeera ntar kubaca.

Selasa, 22 Januari 2013

Hujan

Hujannnnn
Hujan, rahmat Allah untuk hambanya. Dia terdengar merdu dikala menimpa atap. Tapi terasa mengerikan di kala datang bersama angin. Ah hujan memang mengandung beribu makna dalam tetesannya.

Minggu, 13 Januari 2013

Menulis Bin Paksaun

membaca  dan menulis adalah dua kegiatan yang tak dapat dipisahkan. Itulah yang sering aku sampaikan pada murid-muridku  ketika mengajar mereka. Membaca perintah pertama yang Allah turunkan, sedangkan menulis Allah turunkan pada surat yang ketiga AlQolam yang artinya pena. Selain itu menurut sebuah penelitian, dengan banyak membaca dan menulis akan membantu mengurangi risiko penyakit pikun diwaktu senja. Memang begitu banyak manfaat dari membaca dan menulis ini. Tapi sayangnya aku hanya menjalankan perintah yang pertama saja, membaca, sedangkan menulis, ah.... hanya di pikiran saja, belum banyak dituliskan, kalau tidak dengan paksaan.

Minggu, 19 Februari 2012

Mencari atau Menunggu

aku menatap layar hp berulang kali, memastikan kalau temanku tidak salah mengetik sms.
sungguh mengejutkan, ketika teman dekatku mengatakan bahwa hari ini pacarnya sedang melangsungkan pernikahan.??? apakah itu benar atau hanya gurauan semata? aku kembali bertanya dengannya. BENARAN. Benar-benar diluar dugaan, aku kira mereka akan langgeng-langgeng aja hingga ke pernikahan. karena memang selama ini nggak ada sinyal-sinyal akan berakhir. bahkan menurut temanku si laki-laki malah sudah memberikan lampu hijau kearah pernikahan sebelumnya. semua keluarga juga sudah oke, setuju-setuju saja dengan hubungan mereka selama ini. semuanya terasa sangat tak adil bagi temanku.Bagaimana tidak, si dia sudah memberikan harapan yang terlalu jauh untuk dilupakan. Tapi yah, itulah yang namanya takdir Tuhan, kita memang tidak tahu siapa dan kapan jodoh kita akan  datang? Lalu muncullah sebuah pertanyaan mencari kah atau menunggu ??? InsyaAllah akan Allah berikan pada waktunya.

Senin, 04 Juli 2011

risau


hmmmm, pernah nggak sih tiba-tiba merasa hampa dan tidak berguna?? may be setiap orang pernah merasakannya. itulah yang terkadang kita rasakan ketika syetan mulai menggoda, sehingga kita merasa hidup ini hanya untuk leyeh-leyeh sekedarnya , hmmm ini sangat bahaya sob, jdi kalo seandainya hati kalian udah pada risau langsung aja di upgrade pke ibadah pda Allah. l think thats solution only

Jumat, 01 Juli 2011

my skripsi


skripsi, satu kata yang terkadang malas kudengar tapi harus kukerjakan,huh, emang ada apa sih dengan skripsi???

skripsi tugas akhir dan yang paling akhir dari perkuliahan, ibarat UANnya sekolah. skripsi sebenarnya gampang-gampang sulit sih, tergantung orangnya masing-masing dan takdir yang telah Allah tetapkan.lalu bagaimanakah dengan skripsiku?/? setelah berhasil seminar satu bulan yang lalu, sampe sekarang aku blum ada bimbingan lagi, mo ttau knapa? malaz? ehhm, ada sih tapi malaz ku ini ada faktornya loh, kira-kira 50 % lah(hehe,biar adil) faktor ekstern dan separonya lgi intern. aku mles karena rujukannya msih dengan my friend mala, alasan ya.
tapi, menurut aku dan dina (english) skripsi itu sekli digarap enaknya lanjut trus, sekali brenti, maka akan malas untuk memulainya lagi, hehe. tul nggak?? insyaalllah bsok akan kukejar lagi dan fokus lagi, harus give the best to my parent love u all.6_6

semangkuk mie vs secangkir teh


Sore ini,maksudnya kemaren sore ding, Malam menjelang jambi dgn guyuran hujan,membuat sebagian orang enggan u/ klwar,hmm,ini trbukti dgn sepinya warung kami,:(
mlam yg dingin mmbwat prutku jd agak lapar (9 trlalu :) y}
klw dingin2 kayak gni,enaknya yg angat2.
Mie rebusss, sajian instant yg satu ini emang susah dihindari,wlaupun aq thu mmakan mie sma sja artinya dgn memsukkan sdkit rcun kdlam tbuh (agak lebay ni,),tp ttap aja mie msih mnjdi fav0rit bnyak orang,(buktinya ad crita ind0miku).apalgi klw dcmpur tlur cepl0k atw tlur g0reng,hmmm mantapz. Ya sdahlah,drpda brlma2 hdupin kmp0r n mari qt memasak mie.
Spaya 9 trlalu parah,bwat teh dlu ah untk nemaninya,c0z ktanya teh bs menghambat pnyrapan mkanan, dan  yang paling penting sebelum memakan bacalah bismillah......

diary taubat


diary taubat itu judul sebuah buku, yang aku beli kemaren siang,, di Gramed. berkat beli buku itu, sekarang aku sedikit lega dan tenang dear. ternyata aku masih memiliki nurani yang enar, hehehe ya iyalah. maksudnya, melalui buku itu, aku tahu Allah masih sayang denganku. pastinya Allah kan maha penyayanga, hanya hamanya saja yang kadang tidak sadar dengan hal tsb, yah like me tempo hari. but now, I must get up and start to upgrade my love to You Allah. ^_^