Tampilkan postingan dengan label oret-oret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oret-oret. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Sekilas Cerita Tentang Ustaz Hasbullah


Hari ini melihat postingan sekolah qur’an dan hadis dari seorang guruku dulu. Lazimnya kami memanggilnya dengan sebutan ustaz. Alhamdulillah ustaz sudah membuka sendiri sekolah yang menjadikan Alqur’an dan hadis sebagai pondasi awal dari pendidikan. 
 
Tetiba jadi ingat bagaimana ketika beliau dulu mengajar kami di pondok. Namanya ustad Hasbullah Ahmad Daeng Masalleh. Dari namanya sudah tahu kan kalau ustaz ini bersuku bugis. Salah satu ustaz yang tak pernah aku tidur kalau beliau yang mengajar, hehe. Asal tahu aja, dulu itu aku langganan tidur di kelas, lebih tepatnya tertidur sih, tapi kadang-kadang juga sengaja menidurkan diri. Nggak tahu kenapa ya mungkin karena glukosa yang tidak terbakar setelah sarapan sama sambal tribol alias teri main sepak bola kacang tanah. Terus jalan dari asrama ke kelas cuma hitungan menit. Setengah jam ustaz ustazah menyampaikan pelajaran kalau gayanya monoton dan ditambah lagi aku tidak mengerti apa yang dijelaskan alamat sudah mataku mulai berat. Perkataan mereka seolah berubah menjadi dongeng indah yang membuat aku jatuh tertidur. Hebatnya, aku nggak pernah tidur jika ustaz Hasbullah yang mengajar. Tau kenapa? Karena, selalu menarik mendengarkan ustaz berbicara, menyampaikan pelajaran dengan cerdas dan ikhlas. Belum lagi jika menyimak cerita-ceritanya yang bikin aku iri luar biasa. 

Salah satunya, Ustaz pernah cerita diajak umroh gratis sama orang Malaysia di bulan Ramadhan, kemudian sholat tarawihnya berada di shaf bagian depan.  Persis di depan ka’bah. Coba bayangkan, di bulan puasa, bulan yang penuh berkah, di baitullah rumah pertamanya Allah, di barisan paling depan pula,  yaitu sebaik-baiknya shaf bagi jamaah laki-laki. Saat itu aku segera membayangkan suatu saat aku juga berada di depan ka’bah di bulan penuh berkah. Entah kapan waktunya aku serahkan pada Allah subhanawata’ala.

Ustaz selalu sabar dalam mengajar. Ingat sekali saat disuruh menghafalkan surat Aljumuah ayat 10 dan Alhujarat ayat 11. Waktu itu kitanya protes keras. Kelas kami paling banyak protes deh pokoknya, akibatnya dapat gelar kelas baltoji (preman) dari ustaz yang lain, dan sedihnya aku pula yang jadi ketua kelasnya dua tahun berturut-turut pula. Nggak minta sih, tapi kepaksa oleh suara terbanyak.

“Ustaz, ustaz- ustazah sebelumnya nggak ada nyuruh ngapalin kok Taz.” Waktu itu kami duduk di kelas tingkat akhir. Mungkin sebenarnya ustaz mau membekali kami dengan beberapa ayat dan hadis yang nantinya bisa disampaikan pada orang lain.

“Dicoba dulu.” Dengan sabar ustaz berusaha tidak menyerah.

“Tugas hafalan kita yang lain kan udah banyak taz, juz 30 aja belum tamat-tamat.” Kami itu mangkelnya luar biasa. Tiga tahun di ponpes cuma hafal juz 30 saja, ngapalin yang diwajibin saja. Padahal tiga tahun bisa saja hafal 30 juz, sungguh terlalu. 

Tapi ustaz tidak kehabisan akal. Akhirnya dihafallah itu ayat bareng-bareng. Ustaz baca, terus kita ikutin. Karena suara ustaz merdu lama-lama kita jadi senang ngapalinnya. Suara ustaz yang merdu bikin semangat buat menghafalkan potongan ayat Alqur’an dan hadis yang diajarkannya pada kami.

Seingatku Ustaz juga nggak pernah memarahi kami. Ciri khasnya itu selalu tersenyum lebar lima senti ke kanan lima senti ke kiri dan ditahan lima menit, kayaknya lebih lima menit deh. Kalau kitanya nakal biasanya dinasehati dengan lemah lembut. Makanya, kalau ada ustaz-ustazah yang berhalangan hadir, kita biasanya dengan senang hati minta ustaz Hasbullah yang gantiin. 

Dan ustaz juga paham sekali dengan keadaan santri-santrinya. Pernah suatu ketika kami, aku dan Vika selesai belajar kelas sore dan bertemu ustaz yang baru datang dari luar. Terus kita iseng aja mau pinjam motor ustaz buat muter-muter keluar.

“Ustaz pinjam motor ya kita mau jalan-jalan sebentar aja. Refreshing taz belajar terus ni buat UN.” Sambil pasang tampang semelas mungkin. Kening ustaz berkerut sebentar kemudian digantikan dengan senyum lebar.

“Ok, jangan jauh-jauh, jangan lama-lama ya.” Tangan ustaz menyodorkan kunci dengan senyum yang masih bertengger.

Aku dan Vika menyambutnya dengan senyum yang tak kalah sumringah. Kita pun meluncur keluar ponpes. Sesuai pesan ustaz nggak lama-lama cuma 10 menitan aja, tapi senangnya luar biasa. Bagi anak asrama dapat izin keluar pagar itu suatu berkah yang tak terkira. Karena kata izin adalah kata langka yang butuh usaha untuk mendapatkannya :) 

Banyak sekali yang beliau ajarkan pada kami, baik melalui lisan ataupun perbuatan. Salah satu pepatah arab yang sering ustaz ujarkan adalah
“ I’imal liddunyaka kaannaka taa’isyu ‘abada w’amal liakhirotika kaannaka tamutu ghoda” yang artinya “beramallah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati esok harinya.” Dan satu lagi kata-kata yang paling sering ustaz sampaikan ialah “Hidup ini bergerak, bergerak berarti ada perubahan. Bila hidup tidak ada perubahan berarti mati dalam kehidupan.”

Aku akan selalu ingat dengan dua kalimat ini.
Syukron jazakallah ya taz untuk ilmunya. Sukses terus untuk ustaz dan keluarga. 

Yogyakarta 24 April 2015  

Sabtu, 14 Maret 2015

Bahasa Indonesia, Aku Padamu

Habis ngunjungin blog sebelah, isinya cerita tentang kegalauan memilih jurusan waktu mau kuliah. Tetiba, aku jadi ingat masa-masa itu juga.

Galau pilih jurusan? Sama, dulu kakak (jadi merasa udah tua deh) juga begitu loh adek-adek. Berawal dari Aliyah, aku jadi suka sekali dengan bahasa Inggris, selain gurunya asyik, anggapanku dulu keren aja gitu lo bisa cas cis cus pake bahasa Internasional dan ntar biar gampang kalau mau keluar negri. Tiga tahun berjalan, diakhir kelulusan dapat tawaran beasiswa dari Kemenag untuk lanjut di UGM. Ah, senangnya bukan kepalang, meski awalnya aku ngincernya ke UI. Tapi, UGM juga oke punya kan. Aku sudah membayangkan, kalau S1 di Pulau Jawa, S2 mungkin bisa di luar negara. Sayangnya, kesenanganku itu tidak dibarengi dengan usaha yang luar biasa. Yang berhasil lulus di UGM adalah si Chandra sepupuku, bukan si Chandri, meski kita tes lewat jalur yang berbeda. Akhirnya mimpi jadi mahasiswa yang bisa kuliah gratisan di FIB UGM Sastra Inggris hanya terwujud dalam angan saja. Hiks, sedihnya diriku kala itu. Tapi, hidup harus terus dilanjutkan sodara-sodara. Gagal kuliah di Pulau Jawa, Pulau Sumatera jadi alternatif satu-satunya, nggak pake keluar kota pula, hehe.

Pilihan terakhir, aku pun mendaftar di Universitas Negeri satu-satunya di kotaku. Nah, disinilah kegalauanku mulai muncul. Inginnya aku ambil bahasa Inggris lagi, tapi bukan menjadi guru. Masalahnya di Universitas Jambi belum ada FIB adanya FKIP. Padahal aku nggak ada niat jadi guru sebelumnya. Setelah beberapa minggu terdilema, ujung-ujungnya pilihan pertamaku kujatuhkan pada bahasa Inggris dan pilihan kedua pada bahasa Indonesia. Kali ini aku belajar sungguh-sungguh untuk menghadapi SPMB, kalau sekarang namanya SNMPTN ya? Atau sudah berubah lagi? Suka gonta-ganti nama sih. Alhamdulillah, usahaku tak sia-sia, aku lulus SPMB, tapi bukan pilihan pertama melainkan pilihan kedua. Hiks sedihnya aku tak bisa digambarkan dengan kata-kata (alay ya).

Awal-awal kuliah, aku jauh dari kata semangat. Intinya, aku terpaksa kuliah di jurusan bahasa Indonesia, jadi guru pula.
Kalau ditanya “Kuliah jurusan apa?”
“Bahasa Indonesia.”
” Loh, kan kita sudah bisa bahasa Indonesia, kenapa harus kuliah bahasa Indonesia lagi?”
Kalau boleh bilang waktu itu, sakitnya tuh disini. Ternyata pandangan beberapa orang tentang kuliah bahasa Indonesia menyedihkan sekali. Sampai suatu ketika teman sekelasku berkata “Bahasa Indonesia itu akan selalu ada, karena dia bahasa negara kita.” Mulai dari sana, aku menyadari pentingnya bahasa Indonesia. Coba bayangkan saja kalau tidak ada bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Mau pakai bahasa daerahnya siapa coba? Secara Indonesia yang kaya ini punya beribu bahasa. Menetapkan bahasa negara itu bukan perkara mudah. Banyak contoh negara yang harus berjuang dengan cerita yang panjang, penuh konflik hanya untuk menetapkan bahasa nasional negara. Sebut saja Filipina, India, Belgia bahkan Amerika baru menetapkan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi negara di tahun 2006. Dan kita, sejak bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional pada 28 Oktober 1928, alhamdulillah tidak ada yang protes. Suku jawa, bugis, batak, semua menerima dengan lapang dada. Tidak ada kecemburuan sosial. Maka, sudah sepatutnya kita berterimakasih pada para pemuda yang mendeklarasikan sumpah pemuda waktu itu. Sudah selayaknya kita berterimakasih pada bahasa Indonesia yang menjadi pemersatu bangsa kita. Dan, tidak ada salahnya juga kalian berterimaksih kepada kita anak-anak yang memilih jurusan bahasa Indonesia, hehe :) . Dari perenungan panjang aku mulai mengubah cara pandangku terhadap bahasa Indonesia. Lagipula, kuliah jurusan bahasa Indonesia bukan berarti nggak bisa belajar bahasa Inggris kan. Pikiranku dulu dangkal sekali.

Aku mulai semangat kuliah, ditambah lagi ada kelas kekhususan sesuai minat masing-masing. Ada kelas teater, sastra dan jurnalistik. Pilihanku jatuh pada jurnalistik. Kenapa? karena niatnya ambil sastra inggris itu untuk jadi wartawan, biar bisa keliling dunia gratisan, hehe. Semester tujuh, kita pun dimagangkan di media cetak dan elektronik. Waktu itu aku dan kelompokku dimagangkan di TVRI Jambi. Dua bulan magang, aku mulai pikir ulang untuk menjadi wartawan. Kerja dibawah tekanan, jam sekian draf berita harus naik dan besok harus sudah punya topik. Belum lagi godaannya, kalau nggak kuat iman bahaya sodara-sodara. Tawaran dari pimred untuk melanjutkan magang pun kami tolak, kecuali temanku Abdul Manan seorang yang sekarang sudah jadi wartawan tetap di sana.
Alih-alih jadi wartawan, menjadi guru ternyata lebih menyenangkan. Bisa mencerdaskan anak bangsa dengan bahasa Indonesia. Secara bahasa Indonesia kan bahasa nasional, bahasa pengantar, bahasa yang dipakai buat siswa belajar dan guru mengajar. Dan siapakah yang mengajarkan bahasa Indonesia kepada mereka semua? Kita loh, guru bahasa Indonesia. Nggak sombong sih, tapi memang iya kan :). Mau jadi dokter kek, akuntan kek, pegawai kek, guru mtk, guru fisika, bahkan guru bahasa Inggris pun semuanya mesti belajar bahasa Indonesia dulu.

Lebih kurang satu tahun setengah mengajar, aku mulai berpikir untuk mencoba profesi yang lain. Bagaimana kalau aku mencoba untuk menjadi gurunya untuk calon guru yang kelak mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Alias dosen. Keinginanku bersambut dengan dibukanya penawaran Beasiswa BPPDN. Kalau S1 tak bisa ke Pulau Jawa dan dapat beasiswa, semoga S2 ini bisa mendalami ilmu di sana plus beasiswanya. Dan Alhamdulillah Allah yang Maha Baik mengabulkan pintaku. Lanjut S2 dengan beasiswa di Pulau Jawa, di kota pelajar. Kota yang dulu kuimpikan untuk menimba ilmu semasa S1. Walaupun bukan di UGM, tapi di kampus tetangganya alias UNY, aku sudah sangat bersyukur sekali.

Tiada henti syukurku padamu ya Allah. Nikmat-Mu yang mana lagikah yang bisa aku dustakan. S1 nggak bisa keluar pulau, alhamdulillah S2 kesampaian. S2 belum bisa keluar negeri, mungkin Allah izinkannya nanti ketika aku ingin S3 atau setelah aku menyandang gelar S3 (baca istri) untuk mendampingi suami ;)

Oya, terimakasih bahasa Indonesia, kalau dulu aku menjadikanmu yang kedua, itu karena aku tak mengenalmu. Sekarang, kau satu-satunya dan yang utama. Terimakasih bahasa Indonesia, aku padamu.

Chan F San Yogyakarta 14 Maret 2015

Jumat, 06 Maret 2015

Masih Tentang Nama

Ini masih tentang nama, tapi bukan tentang namaku lagi ya. Ini tentang nama adik kandung perempuanku satu-satunya. Cukup satu aja ya, satu aja sudah buat aku pusing kepala. Sebenarnya, selain namaku yang cantik dan rada unik ini (narsis mode on) nama adikku juga punya cerita yang nggak kalah nyentrik lo. Jadi, dalam keluargaku itu, cuma nama kami berdua yang berbeda dengan nama saudara-saudara yang lain. Cuma nama kami berdua yang paling panjang dan bernuansa kekinian, hehe apa sih. Yang penting itu kan nama harus bermuatan doa' dan bernuansa keislaman. Tapi, ya sudahlah. Nama sudah dicetak diatas akte lahir, data sudah tercatat di catatan sipil. 

Perkenalkan, nama adikku Imelda Dwi Yanti. Mungkin kalian banyak yang mengira kalau adikku itu mesti anak kedua. Sayangnya perkiraan itu salah besar sodara-sodara. Adikku anak kedelapan dari delapan bersaudara. Iya, kita itu the big family loh. Aku sempat menyandang status anak bungsu selama lima tahun setengah. Punya empat kakak dua abang dan satu adik. Enaknya punya kakak sering dibeliin barang, dan sering dikasi barang-barangnya yang kita senangi, biasanya ya dikasi. Jarang sekali nggak dituruti. Naluri kakak ke adik tu begitu ya, aku sama adikku juga gitu. Tas, baju, jilbab, sandal, sepatu. Itu barang yang biasanya jadi sasaran permintaan. Enaknya punya Abang bisa dimintain uang :)

Jadi di rumah itu  sudah ada yang ngerjain bagian masing-masing apalagi urusan dapur. Aku dan adikku paling jarang berada di dapur. Bukannya nggak mau bantuin. Tapi, akunya memang jarang dirumah sejak sekolah dasar. Lanjut aliyah, masuk sekolah yang asrama. Mau makan tinggal bawa rantang dan ngantri deh di dapur umum. Tiga tahun jadi pengonsumsi masakan katering. Kuliah, tinggal sama bibi, sama kakak sepupu. Urusan dapur aku paling jarang ikut campur, bantu-bantunya ya jagain ponakan. Kalau pulang liburan atau lebaran ke rumah, sudah ada kakak yang bantuin, dan biasanya aku dipercayakan untuk urusan menata dan membersihkan rumah. Dan sekarang jadi anak kos, beralih selera menjadi pengonsumsi masakan warung burjo yang ala sunda, masakan padang ala sumatra dan masakan manis yang asli Jawa. Bukannya nggak mau belajar, tapi kalau ada yang cepat siap dan harga bersahabat, mengapa tidak? (alibi) Lagian kasian anak kos kalau jadi kelinci percobaan eksperimenku. Prakteknya, ntar deh nunggu ada yang dengan senang hati bersedia jadi kelinci percobaan, eh.

Akibatnya, aku jadi nggak ahli kalau berurusan dengan masakan dan bumbunya. Kalau masakan standar bisa lah ya, tapi ya nggak dengan kualitas sekaliber yang expert judgment. Makanya, adikku yang lebih manja dariku itu tak masukin Sekolah Tata Boga biar punya keahlian, supaya rajin ke dapur, dan ntar kan aku bisa belajar. Oh ya, enaknya punya adik itu bisa disuruh-suruh, loh. Bahasa halusnya bisa dimintai tolong, dek ambilkan itu, dek belikan ini dong, dek antarin kesana ya. Alhamdulillah ya, punya empat kakak, dua abang dan satu adik.

Nah, kembali ke soal nama si adik. Adikku lahir beberapa bulan setelah keponakan pertamaku lahir. Abang iparku pun berencana untuk membuat kartu keluarga dan akte lahir untuk anaknya ke Kuala Tungkal sana (Provinsi Jambi). Waktu itu kabupaten Tanjab Timur dan Barat masih bersatu dalam wilayah Tanjung Jabung. Pergilah si abang ke sana dengan membawa kartu keluarganya dia dan punya kakakku. Setelah melapor kekantor yang bersangkutan, ternyata kartu keluarga kami yang ada aku dan kakakku juga harus diperbaharui. Karena kakak pertamaku sudah tidak terdaftar lagi di sana, dan ditambah lagi nama adikku juga belum terdata. Celakanya, abang iparku tidak ingat nama lengkapnya adikku waktu itu. Dia cuma tahu panggilanya iyan saja. Jangan bayangkan ada handphone, wa, dan bm ya, apalagi facebook twitter dan sodara sosmed lainnya Telpon umum aja belum masuk. Setelah berpikir sesaat, maka tercetuslah nama Imelda Dwi Yanti untuk adikku. Pikirnya waktu itu, yang penting ada yantinya deh. Masalah Abangku paham kata dwi yang berarti dua dalam bahasa sansekerta, aku kurang tahu pasti. Dan mau tahu siapa nama asli adikku itu? Nama aslinya adalah MARDIYANTI :)

Dulu, kalau ada temannya yang ke rumah terus nanyain "Imelnya ada nggak Buk, Kak?" Kita suka loading dulu, emang ada yang namanya Imel ya di rumah ini. Sama sih kayak nasibku. Panggilan dirumah Santi, pas teman datang ke rumah nanyanya Chandri. Hehe, satu sama ya dek.

Solo 7 Maret 2015  

Sabtu, 04 Oktober 2014

Aku Yang Jarang Pulang

Aku yang jarang pulang ialah anak Emak dan Ayah yang keseringannya tidak pernah lama menetap di rumah. Dari sejak sekolah dasar  hingga saat ini aku tak pernah benar-benar ada dalam waktu yang panjang untuk berdiam di rumah. 

Masa SD adalah fase awal aku harus berpisah dari rumah. Meski tidak berpisah seutuhnya dari Emak dan Ayah, tetap saja akhir pekan itu terlalu sedikit bagiku untuk menghabiskan waktu di rumah. Pulang seminggu sekali hanya untuk menginap semalam saja di samping Emak dan tatapan mata Ayah . Ayah..., dulu aku sering berpikir kenapa rumah kita terlalu jauh dari yang namanya sekolah. Kenapa Ayah membangun rumah di tempat yang tidak banyak orang ingin membangun rumah? Sehingga aku tak perlu susah menumpang tinggal pada rumah yang lain. Lewat pekerjaan Ayah, akhirnya aku mengerti bahwa ini adalah tempatnya mencari nafkah. Aku belajar memahami, aku berusaha menerima dan berusaha membuang rasa iri pada teman-teman sekolah. Mereka yang setiap paginya dibantu ibunya menyiapkan pakaian sekolah, yang sarapannya selalu ditemani, yang bisa mencium tangan Ibu dan Ayahnya tiap pergi sekolah, dan memakan masakan ibunya ketika pulang ke rumah. 

9 tahun terlewati, aku harus lanjut sekolah lagi. Jadilah santriwati pinta Emak waktu itu . Meski separuh tak yakin aku tak ingin mengingkari. Sudahlah jarang berbakti, mana mungkin aku menolak keinginan hatimu Mak. Tapi, itu membuat aku semakin jauh dari rumah, semakin jauh dari Emak dan Ayah. Tiga tahun di asrama, Emak dan Ayah hanya sekali melihatku. Tapi aku tidak marah, toh aku tetap bisa pulang ketika liburan tiba. Meski sebenarnya aku merasa iri dengan mereka yang setidaknya satu dua bulan sekali dijenguk oleh orangtuanya. Bercerita tentang kehidupan asrama yang terkadang senang dan susah, menghabiskan hari minggu dengan belanja bersama, dan apapun itu yang mereka lakukan, sukses mengingatkanku pada Emak dan Ayah. Tapi, setidaknya aku punya banyak teman di asrama. Kami yang sama-sama datang dari desa, yang jauh dari Ayah dan Bunda, yang masih bisa tersenyum walau kiriman belum tiba. 

Tiga tahun begitu cepat, aku lulus dari kehidupan asrama. Meski aku sendiri merasa tak puas dengan sedikitnya ilmu yang didapat, dan aku yakin Emak juga kecewa karena aku belum pantas untuk dipanggil ustazah. Sebutan yang acapkali digunakan untuk mereka yang keluar dari sekolah pondok dan dianggap paham seutuhnya tentang agama. Maafkanlah aku Mak, karena memang hanya sedikit ilmu yang diajarkan dari ustaz dan ustazah. Bukankah dulu aku sudah pernah meminta untuk pindah ke tanah Jawa, ketika aku merasa tak puas  di sana. Tapi, Emak bilang terlalu jauh, terlalu susah untuk ditempuh. Aku tidak menyalahkan Emak dan Ayah, aku tangkap seberapa ilmu yang ada, meski aku tak merasa puas.

Aku masuk dunia kuliah. Dunia yang darinya aku mengenal sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang membuat perubahan besar dalam diri dan hidupku. Sesuatu yang membuat aku makin patuh pada Emak dan Ayah. Sesuatu itu bernama ukhuwah islamiyah. Meski karena itu aku semakin jarang pulang ke rumah. Maafkanlah, libur kuliah aku masih sibuk bersama teman-teman seakidah. Karena aku tahu Emak dan Ayah tak akan marah. Sekali waktu aku menginap di rumah mereka, Terkadang aku sedikit  iri dengan mereka yang punya kamar sendiri di rumahnya. Karena aku memang tak punya kamar tetap di rumah. Tapi tak mengapa, sebab aku tak pernah benar-benar menetap di rumah, sebab aku bisa tidur dimana saja selama itu masih di rumah.

Dan hari ini aku semakin jauh dari rumah, dan tentu saja semakin jarang pulang ke rumah. Rumah, adalah tempat aku melepas lelah. Tempat mengenang masa indah bersama Emak dan Ayah dan tempat berbagi kisah atas anugerah dari Allah .

Aku yang jarang pulang ke rumah. Ialah aku yang berusaha menyenangkan hati Emak dan Ayah. Aku paham, berdekatan itu tak selamanya menimbulkan kasih sayang. Dan berjauhan itu tak selamanya menjadi penghalang. Justru jarak yang ada dan waktu yang tercipta  bisa menjadi bumbu atas rasa bernama rindu bukan?

Love u Emak dan Ayah, dari anakmu yang jarang pulang :)

Yogyakarta 4 Okt 14
Happy Ied Adha 1435 H 

Sabtu, 27 September 2014

Seni Meminta



Beberapa hari kemarin, aku kembali mengantri di atm langgananku,yakni atm bni belakang fak kedokteran hewan ugm. Sambil mengantri, seorang laki-laki tersenyum menghampiri sambil memberikan sebuah amplop. Nah lo, baru aja mau ambil uang, udah dikasi amplop duluan  ;) . Tapi jangan dikira itu amplop ada isinya y, yang ada cuma tulisan di luar amplop,kira-kira begini bunyinya "Mohon bantuannya untuk anak yatim dan dhuafa, sumbangan anda sangat berarti untuk mereka" ditambah dengan foto anak kecil yang gembira mendapatkan hadiah dan nama sebuah yayasan lengkap dengan alamat, no telp dan no rekening. Keluar dari atm, aku memasukan pecahan dua ribuan ke amplop dan mengembalikannya pada si bapak petugas yang gayanya cukup perlente. Memakai pakaian safari hitam dan sepatu pantofel hitam pula. Sebenarnya aku sendiri kurang yakin, itu yayasan benar-benar ada apa nggak sih, tapi ya kalau ternyata benar aku bisa kualat kan. Jalan amannya memberi lebih baik daripada menerima. Urusan itu yayasan ada apa nggak biar mereka aja yang mempertanggungjawabkannya kelak.

Membicarakan soal minta-meminta ini, berdasarkan observasi di lapangan (pengaruh tesis :p pake di observasi segala) ada banyak cara yang dilakukan. Yang pertama seperti yang diceritakan di atas, umumnya kalau yang beginian adanya dikota-kota besar. Yang kedua mirip dengan yang pertama, hanya beda sasaran saja. Kalau yang pertama sasarannya atm, yang kedua ini langsung door to door. Yang ketiga layaknya peminta-minta kebanyakan, cukup menyediakan kaleng atau kresek. Mereka ini sering kita temui di perempatan lampu merah dan pasar,atau terkadang juga tak segan melakukan door to door bahkan campus to campus. Yang menyedihkan itu, kalau yang mengemis adalah anak-anak yang selayaknya masih sekolah. Atau ibu-ibu yang membawa anak bayi dalam gendongannya. Yang keempat dengan menggunakan amplop juga, tapi atas nama individu. Biasanya yang begini kita temukan di bis-bis antar kota atau provinsi. Dan yang kelima  hasil observasi terbaru yang  aku dapatkan dalam bus dari padang ke jambi sebulan lalu, yakni menggunakan selebaran. Cerita dikit y. Waktu itu bus baru akan berangkat lagi setelah berhenti sebentar di Solok untuk makan dan sholat magrib.
Tiba-tiba seorang remaja naik ke bus. Kira-kira umurnya seusia anak smp. Ia membagi-bagikan kertas kecil berupa selebaran ke semua penumpang. Ni anak mau promo apa ya? Pikirku. Aku memperhatikan selebarannya dan berusaha membaca dalam temaramnya lampu bus. "Assalamualaikum, bapak/ibu,kakak/adik mohon bantuan seikhlasnya untuk sekolah saya dan adik-adik, orangtua kami sudah tidak ada dan kami tinggal bersama nenek kami. Terimakasih. Ttd: yanto."
Tak lama kemudian terdengar suara dari tengah-tengah bus. Yang sialnya, aku bukannya trenyuh tapi mati-matian menahan ketawa. Apa pasal? Habis adeknya pakai bahasa padang dengan nada yang menghiba dan dibuat semendayu mungkin . Aku masih ingat sedikit liriknya.
"Amak, Apak, Kakak, Adiak mohon bantuan saadonyo untuk ambo jo adiak-adiak... dst. Maaflah y diak, ambo indak tahan manahan katawo ma. Selesai bicara, ia mengambil selebaran dan uang dari penumpang yang berkenan menyumbang, termasuk selebaran yang ada padaku. Aku menyerahkan selebaran dan sedikit recehan  masih dengan menahan senyum, sebenarnya pengen ngasih saran, mending pake amplop sekalian deh dek, biar g repot dan praktis.

Kembali ke masalah minta-meminta, Islam sendiri menganjurkan kita untuk menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Banyak sekali surah Alqur'an yang membicarakan hal ini, salah satunya terdapat dalam surat Al-Ma'un. Lalu bagaimanakah kiranya minta-meminta ini dijadikan profesi? Bolehkah?

Sahabat Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا قَبِيْصَةُ، إِنَّ الْـمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ : رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ : لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ ، فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْش ٍ، –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْـمَسْأَلَةِ يَا قَبِيْصَةُ ، سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.

“Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: Seseorang yang menanggung beban (hutang orang lain, diyat/denda), ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti. Dan seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup. Dan seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram”

Jelas bukan, islam sangat tidak menganjurkan untuk meminta belas kasih orang lain, kecuali dikarenakan tiga hal di atas. Lalu bagaimana kita menyikapi peminta-minta yang terkadang kita ragu dengannya. Jika kita memang ragu untuk memberi, katakanlah ucapan yang baik, atau berikanlah senyuman yang terbaik :) , jangan memaksakan memberi tapi kitanya pasang tampang cemberut y, apalagi diiringi kata-kata yang mungkin bisa menyakitkan hati penerima. Sungguh Allah sangat tidak suka dengan perbuatan yang beginian. Memberi tapi menyakiti (QS Albaqarah)

Rasul sendiri mengajarkan kita untuk bijak dalam memberi. Seperti hadis yang diceritakan oleh Anas  bin Malik berikut:

Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”

Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul lalu berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”

Pengemis itupun pulang mengambil satu-satunya cangkir miliknya dan kembali lagi pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”

Rasulullah SAW menawarkannya kembali, “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.

Rasulullah SAW memberikan dua dirham itu kepada si pengemis lalu menyuruhnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan untuk keluarganya dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. Rasullulah SAW berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah SAW pun memberinya uang untuk ongkos.

Dua minggu kemudian pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.“
(H.R. Abu Daud)

Sungguh suatu pelajaran berharga bisa kita tauladani dari Rasulullah SAW. Beliau tidak hanya memberikan sedekah pada fakir miskin, namun juga memberikan ‘kail’ kepada mereka agar kelak mereka bisa hidup mandiri. Subhanallah. Semoga kita semakin bijak dalam memberi.

Jogjakarta 27 9 14

Senin, 15 September 2014

Kisah Dibalik Nama Part II

Masih mau mendengar seputar cerita di balik namaku, ehm nggak juga nggak papa sih, mumpung lagi pingin nulis,sebaiknya nulis aja (ngusir stress tesis :p ).

Sebenarnya ada enak dan tidak enaknya punya nama seperti anak kembar yang sebenarnya nggak kembar. Tidak enaknya adalah. Pertama, aku suka dibanding-bandingkan dengan sepupuku Chandra. Asal tahu aja, si chandra ditakdirkan mempunyai otak yang lebih encer dari otakku. Kejadiannya pas kelas 6 sd. Waktu itu kita (aku dan teman-teman perempuan ) keasyikan main di lapangan, nyampe-nyampe nggak sadar kalau bel masuk sudah berbunyi beberapa menit sebelumnya. Nah, pas masuk kelas pak guru yang cukup kami takuti sudah berdiri di depan kelas sambil menerangkan pelajaran yang paling tidak aku sukai. Yups, matematika. Dan, sialnya lagi diantara temen-temenku yang lain aku ditodong untuk mengerjakan soal yang udah menuggu di papan tulis. Aku pun terpaksa maju, satu dua menit aku hanya memegang kapur sambil menatap ke papan, berharap ada bisikan gaib yang menyuruhku menulis apa gitu, hehe. Lama-lama pak guru yang tak bisa kusebutkan namanya, kasian juga ngeliatku dan mempersilahkan aku duduk. Tapi yang nggak enak itu statementny it loh, "Aduh gimana ini Ndra, sepupunya nggak ketolong " ucap pak guru sambil menoleh ke sepupuku. Mulai detik itu, aku baru sadar kalau punya sepupu pintar tapi kitanya kurang pintar itu nggak enak juga y, jadi bahan pembandingan. Padahal jelas-jelas ini cuma sepupuan doang, kembar identik aja masih ada bedanya apalagi kita, yang jelas-jelas beda emak beda ayah.

Kalau enaknya lumayan banyak sih. Pertama karena si Chandra pintar dan kalau pintar udah pasti terkenal kan y. Jadilah aku ikut-ikutan tenar. Ceritanya nebeng popularitaslah. Secara dari sd kelas 4-6 (yang aku ingat dari kls 4) si chandra selalu rangking 1, dan aku jangan ngarep deh bisa nempatin rangking 1 selama masih sekelas dengan chandra, nemplok di ranking 2 aja udah pakai perjuangan ekstra keras, nyampe-nyampe aku bayangin kapan y bisa jadi juara 1. Haha, y iyalah pengen juga gitu ngeliat rapor dihiasi angka 1 yang super itu. Dan impianku itu terwujud pas kelas 1 smp. Keajaiban akhirnya terjadi juga, itu karena aku nggak sekelas dengan Chandra. Hehe, dan pas juara umum tetep aj jadi rangking 3. Nah, untuk tahun-tahun berikutnya jangan tanyakan lagi, kelas 2 dan 3 sempurna aku mati-matian mempertahankan posisi di 5 besar akibat masuk kelas unggulan.Yang kedua, enaknya itu kalau aku nggak tau PR spesial for mtk dan itung-itungan sejenisnya tinggal tanya aja dengan Chandra. Pertama ya minta jelasin aja, tapi kalo akunya nggak mudeng-mudeng juga y, dengan berat hati aku melihat pekerjaan sepupuku. Hihi, yang berat hati itu aku atau chandra y. Terus kalo pas ujian ni, secara nama kita kan urutan chandra chandri, kalau pembagian ruang ujian otomatis satu ruangan terus kan, lah pas UN aja kita duduk sebelahan. Ya, apalagi kalau udah buntu banget tinggal pasang muka memelas, sambil ngelirik gitu.
Kalau udah gitu Chandra langsung menawarkan pertolongan.

"Nomor berape ti?”

Tapi gak sering-sering amat loh, khusus untuk beberapa pelajaran aja. Dan yang paling parah itu pas UN SMP, pelajaran you know what? Matematika, sempurna jawaban kita sama semua, tepatnya aku mencontek habis-habisan dari Chandra. Alhasil nilainya pun sama sampai ke koma komanya. Masalahnya waktu itu tahun pertama diberlakukan standar kelulusan UN, jadi aku takut sekali kalau kesandung di MTK, dan chandra juga nggak tega kali ngeliat sepupunya nggak lulus. Kalo dipikir-pikir sekarang itu termasuk dosa nggak y? Kalo dosa itu terhitung pas baligh, berarti belum dicatat malaikat (kan masih anak2 :p #ngeles) tapi tetap aja jangan ditiru y. Di masa sd dn smp itu, kadang aku meragukan kemampuan otak ini . Jangan-jangan karena sepupuku aj aku jadi agak pintar. Maka dari itu, setamat smp aku bertekad harus merdeka dari ketergantungan pada sepupuku, ketergantungan? obat kali y. Yah intinya, aku ingin bebas dari bayang-bayangnya Chandra.


Lanjut ke masa SMA, akhirnya kita beda sekolah meski sama-sama hijrah ke kota Jambi. Chandra lulus di SMA 1, dan aku mengikuti keinginan emak masuk ke pontren alhidayah di pal 10 kotabaru. Sebenarny sih, aku juga pengen masuk kesana, sekolah unggulan, favorit pula. Tapi aku paling gak tega nolak permintaan emak yang sudah kecewa dengan abangku yang kabur dari pondok pada tahun kedua. Dan tambah lagi aku ingin bebas dari baying-bayang chandra, tepatnya nggak ketergantungan lagi dalam hal pelajaran . Jadilah aku anak asrama selama tiga tahun. Sayangnya, meski udah bebas dari bayang-bayang chandra tetap aj gak bisa lepas dari namanya.
Kejadian terbaru kemaren, pas nandatangani spj kepanitiaan orientasi pasca UNY, namaku tertulis chandra febri santi. Mbak tukang ketiknya nggak percaya amat ni  namaku chandri bukan chandra. Waktu nyoblos capres n cawapres juga dipanggil chandra febri santi, padahal jelas-jelas disitu tertulis CHANDRI FEBRI SANTI pake huruf kapital pula. Intinya nama chandra lebih familiar dan lebih diterima dari nama chandri.

Dan yang gak enak berikutnya kalau sesi perkenalan. Komentarnya macem-macem. Namany unik ya, ehm lebih halus deh daripada namanya aneh. Orang india y, ini komen dari dosen pragmatikku dulu, ya ampun prof ini betulan nggak tau atau nyindir y, jelas-jelas tampangku nggak ada india-indianya... dan yang paling nggak enak itu kalo komentator nanya, arti namanya apa? Beneran deh, nggak bisa jawab :p


Yogyakarta 15 Sept 14

Kamis, 05 Juni 2014

Kisah Dibalik Nama Part 1



Untuk yang kesekian kalinya, aku dikira laki-laki... sejak dari SD sampai kuliah, bahkan mungkin akan berlanjut pada masa yang selanjutnya... CHANDRI... memang sih yang lebih familiar itu nama CHANDRA dan kebanyakan chandra itu nama laki-laki y, jadi chandri pun dikira laki-laki. Dan mengapa namaku jadi chandri, itu juga gara-gara chandra . Oke begini ceritanya.
25 tahun yang silam aku lahir di bumi ini, tepatnya pada malam sabtu 3 februari 1989 di kampung laut alias perkampungan yang berada di pinggir laut. Dengan bantuan seorang dukun kampung, alhamdulillah aku pun lahir dengan selamat. Nah, si dukun kemudian mengusulkan nama santi untukku. Kenapa santi? Karena aku lahir di malam sabtu, simpel bingit kan :( . Sebagai ucapan terimakasih, emak dan ayah pun menerima nama itu. Dan aku si bayi itu, sebenarnya mau protes, mbok ya kasi nama yang ngislami gitu loh, tapi apa mau dikata, bayi tak bisa bicara, dan emak dan ayah juga belum terlalu paham dengan nama sebagai doa untuk anaknya. Yang penting orangtua ridho, Allah pun ridho :).
Dulu di usia balita kalau ditanya, “Namanya siapa?” Tentu saja jawabanku adalah “Santi”, dan aku tak menyangka sama sekali kalau namaku bakal bertambah panjang saat akan masuk SD (dulu di kampungku belum ad TK L ). Yups, masalah penambahan nama itu diawali saat masuk sekolah. Aku masuk sekolah berbarengan dengan sepupuku, usianya terpaut 6 bulan diatasku. Namanya Agus, karena dia lahir di bulan Agustus. Salah satu persyaratan untuk masuk sekolah adalah membuat akte kelahiran. Nah, karena orangtua kami sudah terlalu tua dan capek untuk mengurusnya, urusan akte itupun diserahkan kepada kakak-kakak kami (kakakku dan kakak sepupu).
Aku tidak terlalu ingat detail kejadiannya, maklum masih 5,5 tahun. Yang jelas mereka berdiskusi panjang kali lebar. Membicarakan nama-nama yang mulai trend saat itu, dan nama-nama singkat seperti nama mereka sudah mulai ketinggalan zaman :D . Entah darimana idenya, tiba-tiba nama chandra tercetus dari mereka. Mungkin nama chandra lagi naik daun waktu itu. Jadilah nama sepupuku Chandra Agusta, naik derajatkan tu nama. Dari agus jadi Chandra Agusta. Dan untuk namaku, bisa ditebakkan? biar lucu,serasi, dan seperti kembar, padahal yang kembar itu kan kakak dan abang yang berada diatasku, tapi hanya sempat hidup beberapa jam saja. Mungkin mereka juga masih terobsesi punya adik kembar. Akhirnya namaku pun ditambah menjadi chandri, dan karena lahir di bulan februari ditambahlah febri dan terakhir sebagai pelengkap nama kecilku santi. Sehingga jadilah Chandri Febri Santi sebagai nama baruku. Dan nama itupun sah menjadi nama resmi kami (memang ada ya nama tidak resmi, kayak surat aja). Demikianlah kisah di balik nama unik saiiiiyaaa :)


Senin, 19 Mei 2014

Menyapa penunggu malam



Yogyakarta 13 05 14

Dinginya malam ini menyusuri tiap ruas jalan. Membuat insan malas untuk keluar, kalaupun ingin meski hanya untuk urusan mencari makan. Begitu pula kami, meski bukan untuk makan tapi lebih pada kewajiban ataupun soal kepercayaan. 

Jalan yang sama dengan malam-malam sebelumnya, jalan yang lengang antara peternakan UGM dan teknik UNY. Pembatas antara dua universitas itu, kedatangan tamu malam ini.Di trotoar sempit, Duduk bersandar pada besi yang dingin, memandang langit. seorang lelaki dengan wajah separuh abad. 

Tatapnya beralih pada kami. Sorot matanya menjawab pasti. Aku menunggu malam demi butir keringat yang menjelma dalam anyaman bambu. Tak perlulah aku berharap nasi padamu nak, karena aku mencari, bukan berharap akan diberi. 

Sungguh, tak ingin kami menyakiti, tapi sungguh Tuhan Maha Mengasihi. Terimalah ini meski hanya sekotak nasi. untuk temanmu bertamu, menunggu malam disini hingga fajar menghantar matahari.

Tapi, anyaman bambu itu pun tlah memanggil nurani. Marilah sini, titipkan pada kami. lewat ribuan rupiah mungkin lebih berarti.

Senyumnya cerah sebab Tuhan tak pernah salah. Matanya berbinar, sebab Tuhan tak pernah ingkar pada hambanya yang berikhtiar.