Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Agustus 2014

Kepada dia

Kepada dia yang aku tak tahu siapa. Mungkin kita sesama orang asing tak mengenal satu sama lain. Kita pernah berdiri di bumi yang sama. Tapi kita tetap pada jejak masing- masing. Atau mungkin kita begitu dekat, tapi tak menyapa satu sama lain. Sebab kita tak ingin naluri hati mendahului takdir.

Kepada dia yang aku tak tahu dimana. Kita seperti rintik hujan, yang mengikuti kehendak awan. Menurunkan dimana yang dia suka, tanpa bisa meminta. Ikuti saja permainannya, karena awan tak pernah salah melahirkan hujan. Sebab awan akan menghantarkan hujan ditempat yang sempurna, hingga kita bertemu pada muara yang sama.

Kepada dia yang aku tak tahu bila waktunya. Waktu itu seperti jalannya kereta, berjalan dalam jalur yang ada dengan jadwal yang tertata. Begitulah waktu mengatur pertemuan kita. Karena waktu, hanya menjalankan apa yang telah tertulis di atas sana. Dan…, aku kira kita hanya perlu menunggu di stasiunnya. Jadi teruslah melangkah. Hingga saatnya nanti, kita berada dalam kereta dan gerbong yang sama dengan tujuan yang serupa.

Note: Sebenarnya ini puisi yang bertemakan 5W 1H tentang si dia yang belum selesai... :)

Sabtu, 07 Desember 2013

Pada sebuah Hitungan

Menghitung hari...
Gugurkan satu, dua pinta ini
Lihatlah ia, laksana daun kemuning di penghujung musim
Layu, rapuh dan luruh
menyapa bumi

Menghitung masa...
Lupakan satu, dua dosa ini
Hilangkah ia, seperti batu yang terkikis terpaan hujan
Meninggalkan tanda
Pedih ,sesal dan khusyuk
menjaga hati

Menghitung abad...
Lewatkan satu dua usia ini
Berartikah ia, bagai kata yang terlepas dari lisan
Manis, pahit dan pedih
selamanya ia tak kan kembali

Jogjakarta Jumat 4 Okt 2013

Senin, 19 November 2012

Gelisah Bernama Resah


 
Gelisah itu datang lagi malam ini
Mengendap, bersembunyi dibalik bayangan semu berwajah  misteri
Meriap-riap dalam deru jantung terpacu, beku
Merajut tali kemelut yang beralamat pada resah
Berontak, mengaburkan tatapan pada kebenaran
Mencari celah yang bernama alasan

Lihatlah dia disana
Gelisah itu tertawa bahagia, mencabik jiwa separuh raga
Memberi isyarat pada hati yang semakin pekat
Menyamarkan pasti yang bernama kebenaran

Nurani di penghujung malam , menggugahkan alam sadarku
Menyentakkan tanya pada diri, beranjak separuh ragu
Membuang belenggu, mengadu pada yang Satu
Kupulangkan resahku pada-Mu

Jambi, 18 November 2012

Minggu, 07 Oktober 2012

Menunggu pasti

Menunggumu adalah pasti
Berpacu darahku dalam nadi
Kepastian menunggu MATI

Setiap yang bernyawa pasti mati
Itu kata Ilahi
Kullu nafsun zaaaikatul mauut

Mati, maaaaati
Manusia itu sejatinya mati
Mati hatinya, matilah dirinya

Goresan Malam

Adalah sendiri yang menyelimuti malam ini
Sepi mendesak, memanjat, perih
Menyisakan igauan di alam mimpi
Lelah melewati ribuan malam
Mencari secercah cahaya di pagi hari

Adalah Rabbi yang tersebut di hati
Dzikir, fikir, lewati malam
Sering kubertanya mengapa?
Badai terkadang datang tanpa hujan
Topan menjelma tanpa angin
Malam pun hadir tanpa siang
Adalah sepi, sendiri di sini.

6 okt 2012, 20:00


Senin, 04 Juli 2011

pohon cinta untuk Allah



Mari semai bibit cinta
dalam lahan subur di hatimu
Taburkan dengan keikhlasan
untuk menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangan-Nya
Sabarlah, hingga ia bertunas
Rawatlah ia,
dengan siraman ruhiyahmu
Berikan ia pupuk terbaik
dari ibadah-ibadah sunnahmu
Lindungilah ia dari hama penyakit
dengan lantunan dzikirmu
Pastikan ia selalu mendapatkan udara yang baik
dengan pergaulanmu


Dan iringilah pertumbuhannya
dengan tilawah Quranmu
Kelak, ia akan berbuah ranum
Seranum cintamu kepada ALLAH
dan semanis ridho ALLAH atas cintamu
Itulah buah cinta yang pantas kau petik
dari pohon cintamu kepada ALLAH