Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2013

Istimewanya seorang Wanita

By: Cerita Motivasi
Yuk kita ikuti dialog antara Ayah dan anak berikut ini...
Seorang anak yang sudah remaja bertanya pada ayahnya.
Anak : “Ayah, mengapa seorang wanita itu sangat mudah menangis?”
Ayah : “Seorang wanita itu mudah menangis karena Allah menciptakan bahu yang cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut untuk memberi kenyamanan!”
Anak : “Menopang dunia?”
Ayah : “Iya, karena wanita memiliki peranan sangat penting di dunia ini!”
Anak : “Bisa ayah jelaskan apa yang istimewa dari seorang wanita?”

Ayah : “Allah memberikan kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak, dan menerima penolakan yang sering datang dari anak-anaknya. Allah memberi kekerasan untuk membuatnya tegar saat orang lain menyerah, namun dia mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.”
Anak : “Seistimewa itu yah.?”
Ayah : “Bukan hanya itu, Allah juga memberikan kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan. Bahkan ketika anak-anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.”
Anak : “Ternyata wanita itu sungguh luar biasa ya, ayah?!”
Ayah : “Masih ada lagi keistimewaan yang dimilik seorang wanita.”
Anak : “Apa itu yah?”
Ayah : “Allah memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalan dan melengkapi tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya. Allah memberi kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa suami yang baik tak akan pernah menyakiti istrinya. Tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada di sisi suaminya tanpa ragu.”
Anak : “Lalu bagaimana dengan lelaki?”
Ayah : “Lelaki harus membuat wanita merasa nyaman dan terlindungi saat berada disampingnya. Jangan pernah membuat hati wanita terluka, jika lelaki berniat mempermainkan wanita, ingatlah pengorbanan wanita yang telah melahirkannya.”

 

Kamis, 03 November 2011

sebuah renungan


HATTA….TUMPUKAN BATU SETINGGI GUNUNG

Oleh : Ayat Al akrash

Hudzaifah.org - Sebuah alkisah di negeri antah berantah. Seorang Al Akh bercerita kepada akh yang lainnya. “Wah, ane seh sudah baca Buku Risalah Pergerakan, Jundullah, Untukmu Kader Da’wah, Membina Angkatan Mujahid, Riyadusholihin jilid 1 dan 2, Ensiklopedi Muslim, Memoar Hasan Al Banna, Perangkat-Perangkat Tarbiyah, Pilar-Pilar Kebangkitan Umat, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Fiqh Da’wah jilid 1 dan 2, Tsawabit trus… ya terus.. dll, terus…. Ane udah khatam lagi bacanya, Akh….” jelasnya panjang lebar. Lalu ketika berdiskusi tentang buku-buku, ia menambahkan, “Ooh yang warnanya coklat, dan tebalnya segini khan, sampai halamannya pun ane hafal lho!” STOOPPPP!!! Seru malaikat dari langit yang ketujuh, sembari bertanya, “Lalu, setelah baca buku-buku itu, akhlak antum berubah, tidak? Semakin meningkat tidak, ketaqwaan antum kepada Allah?”

Di lain tempat. “Oh.. iyah seh, ane tiap hari baca Qur’an 2 juz per hari. Tuh, berarti satu bulan, dua kali khatam..” Lalu ia menambahkan, “Hafalan ane, yaaa.. sudah 5 juz dech!”. Malaikat dari langit yang keenam geleng-geleng kepala dan bergumam, “Tapi kok ane lihat, akhlak antum tidak berubah ya, justru minus.”

Kisah di atas, hanyalah ilustrasi, dan mencerminkan bahwa di dalam tarbiyah, memang ada penjenjangan, pun dalam buku bacaan.
Dan hal itu terkait dengan pemahaman dan materi yang disampaikan. Buku tentang keimanan adalah yang pertama disampaikan untuk kemudian bertahap ke pergerakan, membentuk pribadi muslim menjadi agent of change. Namun seluruh istilah-istilah yang rumit dan njelimet, dapat disederhanakan dalam satu hadits, "Puncak persoalan adalah Islam. Barangsiapa pasrah diri (masuk Islam) maka dia selamat. Tiangnya Islam adalah shalat dan atapnya adalah jihad. Yang dapat mencapainya hanya orang yang paling utama di antara mereka."(HR. Athabrani)

Entah fenomena apa yang menjangkiti, saat kita menjadi bangga diri (ujub), bila buku bacaan kita tergolong “kelas berat.” Karena bukankah kelas berat atau tidak, sesungguhnya hanyalah istilah dari manusia? Toh, Al Qur’an adalah sumber dari segala sumber penulisan buku-buku tersebut. Sehingga hakekatnya, semua manusia telah mendapat tarbiyah langsung dari Allah, secara utuh, tidak parsial.

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Jumu’ah: 5). Dari ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’la mengibaratkan kaum yang diamanahi Taurat, tetapi tidak mengamalkannya, adalah sama seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sifat keledai adalah bodoh dan malas. Memikul kitab-kitab, yang setiap hari hanya dibawa ke sana kemari, tanpa ada perubahan signifikan pada amal dan ketaqwaan. Dan jangan lupa bahwa kisah-kisah dalam Al Qur’an itu menjadi pelajaran bagi umat saat ini, bahkan bukan tidak mungkin kita dapat menjadi sang keledai itu. Abdullah bin Mas’ud berkata : ‘Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak dapat meraihnya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami bahwa ada sekelompok orang yang membaca Al-Qur’an tapi hanya sampai sebatas kerongkongan mereka saja.

Menuntut ilmu agama, bukanlah untuk dibangga-banggakan ataupun sebagai cerminan level. Mungkin di hadapan manusia, kita digolongkan menjadi berjenjang-jenjang, tetapi dihadapan Allah, tentu di hari akhir saja kita mendapatkan jawaban kedudukan yang hakiki. Contohnya, siapakah gerangan yang mengetahui keikhlasan seseorang, walaupun materi ikhlas sering disampaikan. Bukanlah ilmu itu dilihat dari banyaknya buku yang dibaca, tetapi ilmu yang dapat meningkatkan ketaqwaan, mendekatkan diri kepada Allah, itulah ilmu yang sebenarnya.

Ilmu bukan untuk unjuk gigi di hadapan teman-teman, bahwa saya sudah membaca buku ini dan itu. Bukan pula dipakai sebagai alat untuk berbantah-bantahan. Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka... neraka" (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Setiap kita, pasti mempunyai senjata. Baik itu kepandaian berargumen, ahli diplomasi, ketajaman berbicara, ilmu berdalil, dan lain-lain.
Gunakanlah senjata itu untuk menegakkan kalimah-Nya. Dan simpan senjata itu jika hanya untuk menunjukkan kepintaran diri.

Meminjam bait kata-kata dari KH. Rahmat Abdullah, “Merendahlah, engkau kan seperti bintang- gemintang, berkilau di pandang orang. Di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap, yang mengangkat tinggi diri di langit, padahal dirinya rendah-hina.”[]



---- Ya, Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat ----

Rabu, 06 Januari 2010

pohon tua


Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu.

Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang. Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini? Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.

"Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, .ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya. "Cittt...cericirit...cittt, suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu...dua...tiga...dan empat anak burung lahir ke dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

~~~

Sahabat, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah,Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Tuhan tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Sahabat, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.

Jazakumullah Khoir, telah membaca... ^_^(siswo pasti mati)

Minggu, 06 Desember 2009

biografi fatimah al zahra


Biografi Fatimah Al-Zahra binti Rasulullah saw

FATIMAH AL-ZAHRA
Fatimah al-Zahra as (ucapan Alaiha Salam [as] sila rujuk misalnya dalam Sahih Bukhari, Juzuk 5, hadith 368, dan 546) adalah puteri kepada Rasulullah s.a.w. Ibunya Khadijah iaitu isteri Rasulullah s.a.w yang pertama dan amat dikasihinya. Tentang bondanya Khadijah, Rasulullah s.a.w pernah bersabda yang bermaksud: “Empat wanita yang terbaik ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim isteri kepda Firaun.” [Muhibuddin al-Tabari, Dhakha'ir al-Uqba fi Manaqib Dhawi al-Qurba, hl. 42; Al-Hakim alam al-Mustadrak, Juzuk 3, hlm. 157].
Fathimah as mempunyai nama-nama timangan seperti Ummal Hasan, Ummal Husayn, Ummal Muhsin, Ummal A’immah dan Umma Abiha.
Rasulullah s.a.w menggelarkannya Fathimah as sebagai “Ummu Abiha” bermaksud ibu kepada ayahnya. Ini kerana Fathimah as sentiasa mengambil berat tentang ayahandanya yang dikasihi itu. Selain daripada itu gelaran-gelaran lain ialah Zahra, Batul, Siddiqah Kubra Mubarakah, Adhra, Tahirah, dan Sayyidah al-Nisa.
Fatimah dilahirkan pada 20 Jamadil Akhir di Mekah iaitu pada Hari Juma’at, tahun kelima selepas kerasulan Nabi Muhammad s.a.w [Manaqib Ibn Shahrashub, (Najaf), Juzuk 3, hlm. 132; al-Kulaini, al-Kafi; Misbah al-Kaf'ami; Syeikh al-Mufid, Iqbal al-Amal]. Tempat beliau dilahirkan ialah di rumah ayahanda dan ibundanya iaitu Rasulullah s.a.w dan Khadijah ak-Kubra. Beliau AH wafat pada tahun ke-11 hijrah iaitu selepas enam bulan kewafatan ayahandanya Rasulullah s.a.w [al-Bukhari, Sahih, Juzuk 5, Hadith 546]
Kelahiran Fathimah as amat menggembirakan Rasulullah s.a.w. Beliau s.a.w bersabda tentang Fathimah as: “Dia adalah daripadaku dan aku mencium bau syurga dari kehadirannya.” [Kasyf al-Qummah, Juzuk 2, hlm. 24].
Mengapa diberikan Nama Fatimah? Menurut Imam Ali al-Ridha AS nama “Fatimah” diberikan oleh Rasulullah s.a.w Fathimah as dan para pengikutnya terpelihara dari api neraka. Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata: ” Rasulullah s.a.w bersabda kepada Ali AS: Tahukah kamu nama mengapa nama Fatimah diberikan kepadanya? Ali menjawab: Mengapa dia diberikan nama itu? Dia (Rasulullah s.a.w) bersabda: Kerana dia dan golongannya akan diperlihara dari api neraka.”
Ketika masih berumur dua tahun Fathimah as turut bersama-sama ayahanda dan bondanya di perkampungan Shi’bi Abi Talib kerana di boikot oleh masyarakat Mekah. Kemudian pada tahun ke sepuluh kerasulan, bondanya Khadijah pula meninggal dunia. Peristiwa ini menjadikan Fatimah banyak bergantung hidup kepada ayahandanya Muhammad Rasulullah s.a.w.
Dalam peristiwa hijrah ke Madinah, Fathimah as bersama-sama dengan rombongannya iaitu Fatimah binti Asad bin Hashim iaitu ibu kepada Imam Ali AS, Fatimah binti al-Zubair bin Abdul Muttalib,Fatimah binti Hamzah, dan juga Ayman dan Abu Waqid al-Laithi berhijrah ke Madinah. Rasulullah s.a.w telah sampai dahulu di Quba, Madinah. Sebelum meninggalkan Mekah Rasulullah s.a.w telah mengarahkan Ali bin Abi Talib supaya menyusul bersama keluarganya kemudian. Justeru, rombongan hijrah tersebut diketuai oleh Ali bin Abi Talib AS.
Keperibadian Fatimah al-Zahra as
Fathimah as termasuk dalam Ahlul Bayt Rasulullah s.a.w sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat al-Tathir dalam surah al-Ahzab: 33. Dalam Surah Al-Ahzab: 33 bermaksud:
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kalian daripada kekotoran (rijsa), wahai Ahlul Bayt dan menyucikan kamu sebersih-bersihnya.”
Dalam ayat di atas, Fathimah as adalah salah seorang daripada Ahlul Bayt Rasulullah s.a.w dan Allah SWT telah menyucikan Fathimah as dari sebarang dosa-dosa, bermakna Fathimah as adalah seorang yang ‘maksum’ – pendapat sesetengah ulama Ahlul Sunnah. [Sila baca Riwayat hadith al-Kisa]
Riwayat Hadis Al-Kisa
Di bawah ini disebutkan beberapa ulama dan ahli tafsir yang telah meriwayatkan hadith tersebut melalui berbagai sumber. Semua riwayat tersebut saling berhubungan di dalam bentuk yang berbeza-beza dan berikut adalah sebahagian daripadanya:
  1. Muslim, Sahih, Kitab Fadail al-Sahabah, Bab Fadail Ahl Bayt al-Nabi, Jilid VII, hlm.130.
  2. Ahmad bin Hanbal, Musnad, Jilid I, hlm.331; Jilid III, hlm.151-259 dan 285, Jilid IV, hlm.5 dan 107; Jilid VI, hlm. 292, 296, 298, 304, dan 322.
  3. Al-Tirmidzi, Sahih, K-44, Surah H-7, K-46, B-31 dan 60.
  4. Jalal al-Din al-Suyuti, al-Durr al-Manthur, Jilid V, hlm. 198-199
  5. Syaikh Abd. al-Haq Muhaddith Dehlavi, Asya’atal al-Lamaat, Jilid IV, hlm.278-379.
  6. Abu Dawud al-Tayalisi, Musnad, Jilid VIII, hlm.474, hadith 2055.
  7. Ibn Hajar al-Makki, Al-Sawa’iq al-Muhriqah di bawah tajuk Barahin Qat’iah.
Fatimah az-Zahra AH mempunyai sifat-sifat kemuliaan yang dinyatakan dalam al-Qur’an. Ulama dari pelbagai mazhab bersetuju bahawa ayat al-Qur’an surah Al-Insaan (76); 8-9 ditujukan kepada keluarga Fathimah as iaitu yang bermaksud: “Dan mereka memberikan makanan yang disukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kamu hanyalah untuk mendapatkan keredhaan Allah. Tidaklah kami mengharapkan balasan daripada kamu dan tidak juga (ucapan) terima kasih.”
Ayat di atas mengisahkan Hasan dan Husayn AS sedang dalam keadaan sakit. Rasulullah s.a.w dengan beberapa orang sahabat menziarahi mereka. Rasulullah s.a.w mencadangkan kepada Ali AS bernazar kepada Allah SWT bahawa dia dan keluarganya akan berpuasa selama tiga hari apabila anak mereka sembuh dari penyakit tersebut. Ali, Fatimah, dan pembantu mereka, Fizzah bernazar kepada Allah SWT. Apabila Hasan dan Husayn AS sembuh, mereka pun berpuasa. Pada waktu berbuka datang seorang pengemis meminta makanan kepada mereka. Pada hari itu mereka hanya berbuka dengan sahaja. Keesokan hari ini datang seorang anak yatim meminta makanan daripada mereka pada waktu berbuka dan sekali lagi mereka hanya berbuka dengan air sahaja. Pada hari ketiga, datang pula seorang tawanan perang meminta makanan. Selepas memberikan makanan, Ali membawa anak-anaknya ke rumah Rasulullah s.a.w. Rasulullah s.a.w berasa sedih melihat keadaan cucunya itu. Ali AS membawa Rasulullah s.a.w ke rumah mereka. Sampai di sana Rasulullah s.a.w melihat Fathimah as sedang berdoa dengan keadaan yang amat lemah. Rasulullah s.a.w berasa amat sedih. Turun malaikat Jibril berkata kepada beliau s.a.w,” Wahai Muhammad ambillah dia (Fatimah). Allah memberikan tahniah pada Ahl Bayt kamu.” Lalu Jibril membacakan ayat tersebut.[Al-Hakim al-Haskani, Shawahid al-Tanzil, jld.II, hlm.298; al-Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld.XXIX, hlm.157; Fakhur al-Razi, Jild.XIII, hlm.395]
Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
“Fatimah adalah sebahagian daripadaku. Barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah.” [a-Bukhari, Jilid II, hlm.185]
Imam Ali al-Redha AS berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda bermaksud:
“Hasan AS dan Husayn AS adalah makhluk yang terbaik di dunia selepasku dan selepas bapa mereka (Ali AS) dan ibu mereka (Fathimah as) adalah wanita yang terbaik di kalangan semua wanita.”.
Dari Imam Ali AS dari Rasulullah s.a.w berkata kepada Fathimah as bermaksud:
“Sesungguhnnya Allah marah kerana kemarahanmu dan redha kerana keredhaanmu.” [Mustadrak al-sohihain, juzuk 3, hlm152]
Dari Aisyah berkata bahawa:
“Tidak pernah aku melihat seorang pun yang lebih benar dalam berhujah daripadanya melainkan ayahnya (Rasulullah s.a.w).”[Mustadrak al-Sohihain, Juzuk 3, hlm.160]
Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadith dari Aisyah berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “…..Tidakkah engkau redha (wahai Fatimah) bahawa engkau adalah saidati-nisa fil-Jannah (pemimpin wanita di syurga) atau pemimpin wanita seluruh alam…” [Sahih Bukhari, Jld. IV, hadith 819]
Dalam hadith yang lain al-Bukhari meriwayatkan dari Aisyah sebuah hadith yang panjang dan di sini dinyatakan sebahagiannya:
“….Wahai Fatimah! Tidakkah engkau redha bahawa engkau adalah saidati-nisa il-mu’minin (pemimpin wanita mu’minin) atau saidanti-nisa-i hadzhihi il-ummah (pemimpin wanita umah ini)?” [Al-Bukhari, Jilid 8, hadith 301]
Al-Bukhari meriwayatkan hadith dari Imam Ali AS bahawa pada suatu ketika Fathimah as mengadu tentang kesusahannya mengisar tepung. Apabila beliau AH mendengar berita ada beberapa orang hamba dari rampasan perang telah dibawa kepada Rasulullah s.a.w, beliau AH lalu pergi (ke rumah Rasulullah s.a.w) untuk menemui baginda s.a.w bagi mendapatkan pembantu tersebut, tetapi pada ketika itu (Rasulullah s.a.w tidak ada di rumah) Aisyah tidak dapat mencari baginda s.a.w. Lalu Fatimah menceritakan hasratnya kepada Aisyah. Apabila Rasulullah s.a.w pulang, Aisyah menyatakan kepadanya perkara tersebut. Rasulullah s.a.w kemudian pergi ke rumah kami….Mahukan kamu aku nyatakan suatu perkara yang lebih baik daripada apa yang kamu minta? (Iaitu) apabila kamu hendak masuk ke tempat tidurmu, maka ucapkanlah Allahu Akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Subhan Allah 33 kali. Ini adalah lebih baik daripada yang kamu pohonkan.”[Al-Bukhari, Jld. VI, hadith 344]
Amru bin Dinar meriwayatkan dari Aisyah berkata:
“Tidak pernah aku melihat seseorang pun yang lebih benar daripada Fatimah salamullah ‘alaiha selain daripada ayahnya.” [Hilyatul-awliya, Juzuk 2, hlm. 41]
Ibnu Abbas meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
“Pada malam aku diangkat ke langit (mi’raj), aku melihat di pintu syurga tertulis bahawa Tidak ada Tuhan melainkan Allah, Muhammad Rasulullah, Allah mengasihiku, dan Hasan, dan Husayn sofwatullah (sari yang terbaik dari Allah), Fatimah Khiratullah (sesuatu yang terbaik dari pilihan Allah), laknatullah ke atas mereka yang membenci mereka.” [Tarikh al-Baghdadi, Juzuk 1, hlm. 259]
Fatimah al-Zahra as mempunyai sifat-sifat berikut seperti ayahnya dan suaminya serta anggota keluarganya: (1) menemukan jalan yang benar (ihtida’) (2) mentaati prinsip-prinsip Islam (iqtida’), dan (3) berpegang teguh serta menyakini kewajipan-kewajipannya (tamassuk).” [Nasa'i dalam Khashais Alawiyyah]
Kezuhudan Fatimah al-Zahra as
Imam Hasan AS meriwayatkan,” Aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih alim daripada ibuku. Ia selalu melakukan solat dengan begitu lama sehingga kakinya menjadi bengkak.” Imam Hasan AS juga meriwayatkan:
“Aku melihat ibuku, Fatimah berdiri solat pada malam Jumaat. Beliau meneruskan solatnya dengan rukuk dan sujud sehingga subuh. Aku mendengar beliau AH berdoa untuk kaum mu’minin dan mu’minah dengan menyebut nama-nama mereka. Beliau berdoa untuk mereka semua tetapi beliau AH tidak berdoa untuk dirinya sendiri.”Ibu,” Aku bertanya kepada beliau AH.”Mengapa ibu tidak berdoa untuk diri sendiri sebagaimana ibu berdoa untuk orang lain?” Beliau menjawab,” Anakku, (berdoalah) untuk jiran-jiranmu diutamakan dan kemudian barulah dirimu sendiri.” [Abu Muhammad Ordooni, Fatimah The Gracious, hlm.168-169; Sayyid Abdul Razak Kammoonah Husseini, Al-Nafahat al-Qudsiyyah fi al-Anwar al-Fatimiyyah, Juzuk 13, hlm.45]
Asma’ binti Umays meriwayatkan:
“Pada suatu ketika aku sedang duduk-duduk bersama Fathimah as apabila Nabi s.a.w datang. Beliau s.a.w melihat Fathimah as memakai rantai di lehernya yang telah diberikan oleh Ali bin Abi Talib AS dari bahagiannya yang diambil daripada harta rampasan perang.” Anakku”, beliau s.a.w berkata,”Janganlah tertipu dengan apa yang orang katakan. Anda adalah Fatimah puteri Muhammad, anda memakai barang perhiasan (yang menjadi kesukaan) orang-orang yang bongkak.” Beliau AH serta-merta melucutkan rantainya pada ketika itu juga dan menjualnya. Dengan wang dari jualan tersebut, beliau AH membeli dan kemudian membebaskan seorang hamba lelaki. Apabila Rasulullah s.a.w mendengar apa yang beliau AH lakukan, beliau s.a.w berasa gembira dan mendoakan rahmat kepada Imam Ali AS. [Al-Hakim, Al-Mustadrak, Juzuk 3, hlm. 152]
Karamah Fatimah al-Zahra as
Abu Sai’d al-Khudri berkata: “Pada suatu hari Ali AS berkata bahawa beliau AS berasa amat lapar. Beliau AS kemudian meminta Fathimah as menyediakan makanan. Fathimah as bersumpah bahawa tidak ada makanan yang tinggal untuk menghilangkan kelaparan Ali AS. Imam Ali AS bertanya mengapa Fathimah as tidak memberitahukan kepadanya bahawa di rumah mereka sudah tidak ada makanan lagi. Fathimah as menyatakan bahawa dia AH berasa malu untuk menyatakan perkara itu, dan dia AH juga tidak mahu menuntut apa-apa dari Imam Ali AS. Imam Ali AS keluar dari rumah dengan rasa tawakal kepada Allah SWT. Beliau AS meminjam wang sebanyak satu dinar dengan hasrat untuk membeli makanan untuk ahli rumahnya. Dalam perjalanan pulang, beliau bertemu Miqdad ibn Aswad sedang terbaring di atas jalan pasir yang panas terik oleh bahang matahari yang membakar. Miqdad kelihatan sedih dan tidak bermaya. Lalu Imam Ali AS bertanya kepadanya apa yang terjadi tetapi dia enggan menyatakan perkara yang berlaku kepada Imam Ali AS. Tetapi akhirnya dia menyatakan juga rahsia itu dan berkata:
“Wahai Abul Hasan! Aku bersumpah bahawa ketika aku keluar rumah tadi, ahli rumahku berada di dalam kelaparan yang teruk. Anak-anakku kebuluran dan aku tidak sanggup menonton keadaaan mereka menangis itu. Lalu aku meningggalkan mereka, dan berusaha mencari jalan untuk mengatasi masalah tersebut.”
Air mata Ali AS jatuh berguguran dan mengenai janggutnya apabila mendengar kisah tersebut. Ali AS berkata kepadanya:
“Aku bersumpah bahawa aku juga mengalami keadaan yang sama seperti engkau.”
Ali AS lalu menyerahkan wang yang dibawanya kepada Miqdad. Ali AS kemudian pergi ke masjid di mana pada ketika itu Nabi s.a.w sedang solat. Ali AS bersolat di tempat suci itu, dan selepas selesai menunaikan kewajipannya, beliau AS menemui Nabi s.a.w di pintu masjid. Rasulullah s.a.w bertanya Ali AS tentang makanan yang dia ada untuk makam malam, sama ada Nabi s.a.w dijemput oleh menantunya untuk makan malam.
Ali AS tunduk dan tidak berkata apa-apa. Beliau AS tidak tahu apa yang harus dikatakan. Kelihatannya Rasulullah s.a.w tahu tentang kisah wang satu dinar itu. Telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w bahawa hendaklah beliau s.a.w bersama Ali AS pada petang itu.” Mengapa anda tidak berkata sesuatu?” tanya Nabi Muhammad s.a.w. Ali AS dengan menjawab: ” Diriku di tanganmu.”
Nabi Muhammad s.a.w memegang tangan Ali AS dan dua orang yang agung ini berjalan bersama-sama ke rumah Fathimah as. Apabila sampai di sana, Fathimah as baru selesai menunaikan kewajipannya (solat), dan di atas tungku ada satu periuk masakan sedang di masak dan ketika ia sedang mendidih. Fathimah as kemudian keluar apabila mendengar bunyi tapak kaki ayahnya datang dan menyambut kedatangan mereka. Nabi s.a.w mengucapkan salam dengan lembut.” Semoga Allah SWT memberi rahmat ke atas kamu berdua, dan semoga kamu dapat menyediakan kami hidangan makan malam!” sambung Rasulullah s.a.w.
Fathimah as mengambil periuk tersebut dan meletakkan di hadapan ayahnya s.a.w dan suaminya, Ali AS, yang terkejut dan bertanya isterinya bau makanan yang lazat di dalam periuk itu. Fathimah as berkata: ” Adakah anda marah dengan memandangku dengan pandangan yang demikian! Adakah aku telah melakukan sesuatu yang salah menyebabkan aku layak menerima kemarahanmu!?”
Ali AS berkata: ” Mengapa tidak? Semalam engkau bersumpah bahawa engkau tidak mempunyai sedikit makanan pun untuk kita hidup selama beberapa hari! Apa ertinya ini semua?”
Dengan memandang ke langit Fathimah as menyambung: ” Tuhanku yang berkuasa ke atas langit dan bumi akan menjadi saksi bahawa apa yang akan aku katakan ini adalah benar.”
Ali AS menambah: ” Wahai Fatimah! Sudikan anda menyatakan kepada kami kisah sebenarnya. Sudikan anda dengan jujur menyatakan kepada kami siapakah yang menghantar hidangan yang lazat ini yang menjadi makanan kita!”
Rasulullah s.a.w dengan lembut meletakkan tangannya ke atas bahu Ali AS dan berkata: ” Wahai Ali! Semua ini adalah sebenarnya anugerah dari Allah SWT kerana kemurahan yang kamu tunjukkan ketika memberikan wang dinar tersebut.
“…Sesungguhnya Allah memberikan (rezeki) apa yang dikehendakiNya tanpa hisab.”(Ali-Imran: 37)
“Dan apabila Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrabnya, dia mendapati jmakanan di sisinya.” (Ali-Imran: 37) , [Amali Tusi, Jilid 2, hlm.228-230]
Sikap Rasulullah s.a.w Terhadap Fathimah as
Rasulullah mengaitkan Fathimah as dengan dirinya s.a.w. Justeru Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
“Fatimah adalah daripadaku dan barang siapa yang membuat dia marah, akan membuat aku marah.” [Al-Bukhari, Jilid V, hadith 111]
Ketika berpergian, Fathimah as adalah orang yang paling akhir beliau s.a.w mengucapkan selamat tinggal, dan ketika pulang dia (Fathimah as) adalah orang yang pertama yang ditemui oleh ayahya s.a.w. [Ahmad bin Hanbal, Musnad, Juzuk 5, hlm.275; Al-Baihaqi, Sunan, Juzuk 1, hlm.26].
Imam Ali AS suatu ketika bertanya kepada Rasulullah s.a.w:
“Wahai Rasulullah! Siapakah di kalangan keluargamu yang paling dekat denganmu?
Fatimah binti Muhammad,” jawab baginda s.a.w. [Al-Tabari, Dhakair al-Uqba; Al-Tirmidzi, Sunan. hlm.549; Al-Mustadrak, Jilid 3, hlm.21 dan 154]
Explore posts in the same categories: Ahlulbait, Manakib

resensi buku


Judul : Spirit of Succes
Penulis : Aris Ahmad Jaya
Penerbit : Abcho publisher
Tebal : 209 halaman



Mau, jadi orang sukses???
Bisa dikatakan sukses adalah impian setiap orang. Tidak ada orang yang hidup di dunia tanpa memimpikan kesuksesan. Sayangnya, banyak dari kita yang hanya memimpikannya saja, tapi tidak disertai dengan rencana matang dan tindakan yang nyata. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Hal ini jelas diutarakan Allah swt dalam QS Ar Ra’d (13:11). Jadi, seorang manusia mampu merubah hidupnya sendiri atas izin Allah swt.
Orang sukses bukanlah manusia yang tidak pernah gagal, ketika mencoba sesuatu tetapi tidak mendapatkan apa yang diharapkannya, mereka mendapatkan pengalaman belajar. Mereka memanfaatkan apa yang telah dipelajarinya dan bangkit melakukannya lagi dengan cara yang lebih cerdas.
Kesuksesan ternyata bukan hanya berbicara tentang hasil. Namun kesuksesan yang sesungguhnya berbicara tentang proses. Hasil sukses yang dicapai seserorang saat ini tidak akan terlepas dari proses yang ditempuh secara berliku pada waktu sebelumnya. Proses inilah yang akan menjadikan kita lebih dewasa secara emosi, dan cerdas secara mental.
Melalui buku ini kita akan diajak menyelami makna sukses yang dimulai dari kita sendiri. Dalam buku ini penulis mengajarkan bagaimana memulai kesuksesan dengan merencanakannya, mempelajari kegagalan yang terjadi serta solusi ketika semangat itu kembali menurun. Selain itu, didalamnya juga terdapat 31 kisah inspirasi yang menggugah hati, dengan menggunakan bahasa sederhana tanpa mengenyampingkan kepuitisan serta makna, sehingga mudah dicerna dan menarik untuk dibaca.
Buku best seller Spirit of Succes yang dkemas oleh Aris Ahmad Jaya, seorang Mr Sugesti Power Indonesia ini benar-benar akan memberikan semangat baru untuk meraih kesuksesan dalam diri kita serta menularkannya pada dunia. So, tunggu apa lagi? segera ketahui rahasia sukses untuk menjadi orang sukses!!!